Pembangunan Monumen Saönigeho, Seharusnya Siapa Menghadap Siapa?

Samuel Novelman Wau | Dok. Pribadi

Samuel Novelman Wau | Dok. Pribadi

Oleh Samuell Novelman Wau*

Ketokohan Siulu Saönigeho

Ketokohan Si’ulu Saönigeho yang berasal dari Bawömataluo, Nias Selatan telah diakui oleh masyarakat Nias secara luas. Hal itu nampak dari seminar hasil penelitian yang diadakan pada tahun 1988 – Saönigeho selalu mengungguli tokoh-tokoh lainnya dan beliau memperoleh skor tertinggi baik dalam hal jejak sejarah, legalitas, maupun peristiwa yang dilakukan. Maka tidak heran bila pemerintah kabupaten Nias (sebelum pemekaran) memberikan penghormatan kepada beliau dengan mengabadikan namanya sebagai nama jalan protokol di kota Teluk Dalam.

Posisi Saönigeho di antara para pejuang Indonesia

Kehormatan yang dianugerahkan kepada Saönigeho dengan mengabadikan namanya sebagai nama jalan utama terasa belum cukup mengingat perjuangannya selama masa penjajahan Belanda begitu signifikan. Sejak masa mudanya ia telah terlibat aktif dalam perjuangan mengusir penjajah Belanda dari bumi Nias. Perjuangannya dimulai dari Orahili Fau bersama ayahnya, Laowö dan para pejuang lainnya. .

Setelah Orahili dibakar, Saönigeho masih meneruskan perjuangan di pemukiman baru mereka yang dinamakan Hilifanayama atau lebih populer disebut Bawömataluo. Banyak hal yang sudah ia korbankan demi mengusir kaum penjajah, salah satunya saat kehormatannya sebagai bangsawan yang memerintah (balö ziulu) dipertaruhkan dengan cara ia harus menjadi tawanan Belanda di kota Gunungsitoli dan dipenjarakan selama beberapa bulan.

Perjuangan Saönigeho tidak lebih kecil dari perjuangan pejuang-pejuang Indonesia lainnya dari daerah lain seperti Sisingamangaraja dari tanah Batak, Hassanudin dari Makassar atau Diponegoro dari Jawa. Karena itu sepertinya tidaklah selayaknya bila Saönigeho hanya diposisikan sebatas pahlawan lokal. Telah banyak upaya dan usulan kepada pemerintah pusat untuk mengakui Saönigeho sebagai salah satu pahlawan nasional dari daerah Nias. Beliau merupakan representatif perjuangan suku Nias selama masa-masa perang kemerdekaan Indonesia.

Harapan dan tantangan mengakui kepahlawanan Saönigeho

Pada akhir tahun 2014 ini tepatnya di bulan November yang dikenal sebagai bulan peringatan Hari Pahlawan, masyarakat Nias dikejutkan dengan berita adanya rencana pemerintah kabupaten Nias Selatan untuk membangun monumen berupa patung Saönigeho di pangkalan Angkatan Laut Nias Selatan. Tidak hanya itu, pangkalan tersebut akan diresmikan pada tanggal 20 November 2014 dengan nama Pangkalan Angkatan Laut Saönigeho.

Dan menurut keterangan orang dekat Pemkab, nama Saönigeho akan ditabalkan menjadi nama KRI AL. Luarbiasa. Suatu penghormatan yang bertubi-tubi dianugerahkan kepada pahlawan Nias ini. Lebih jauh lagi masih dari sumber yang sama dikatakan bahwa dengan adanya monumen ini maka diharapkan akan mendapat perhatian pemerintah Jokowi-JK untuk menetapkan Saönigeho sebagai Pahlawan Nasional. Mungkinkah ini jalan yang ideal untuk mewujudkan impian masyarakat Nias menyaksikan Saönigeho diakui sebagai Pahlawan Nasional? Waktu yang akan menjawab.

Niat baik pemerintah kabupaten Nias Selatan ini sedianya akan disambut oleh ahli waris Saönigeho, yaitu semua anak-cucunya secara khusus mereka yang masih tinggal di Omo Nifolasara Bawömataluo yang adalah istana Saönigeho. Namun kenyataannya tidaklah demikian. Justru sebaliknya, hampir semua keluarga Saönigeho menentang rencana ini.

Salah satu yang paling vocal menentang rencana ini adalah Marselino Fau. Ia adalah keturunan keempat dari Si’ulu Saönigeho. Ada banyak alasan ahli waris menolak rencana pemkab Nias Selatan ini diantaranya karena sejak awal Pemkab Nias Selatan tidak mengajak mereka berdialog, pemilihan lokasi yang tidak memiliki nilai historis, tidak transparannya tujuan dari pendirian monumen tersebut dan yang terutama tidak adanya pengakuan legalitas atas kontribusi Saönigeho dalam perjuangan melawan penjajah Belanda.

Monumen Saönigeho | Maria Christina Endarwati

Monumen Saönigeho | Maria Christina Endarwati

Etika dalam pendirian monumen Saönigeho

Terlepas dari semua keberatan-keberatan di atas, di sini saya hendak menyoroti satu hal yaitu etika dalam rencana mendirikan monumen Saönigeho. Niat baik tidak cukup untuk melakukan sesuatu. Seyogianya niat baik harus disertai dengan etika yang baik pula. Tanpa itu maka sebaik apapun niat seseorang atau lembaga akan memancing munculnya kecurigaan yang tidak perlu. Dan bukankah itu yang sedang terjadi saat ini? Proyek mulia ini akhirnya menimbulkan pro dan kontra dari banyak pihak.

Seharusnya sejak awal pemkab Nias Selatan yang merupakan inisiator pendirian monumen ini mau menjalin komunikasi dengan keluarga ahli waris Saönigeho – Orang Nias sering mengatakan: ami li moroi ba gö. Bukan sebaliknya seperti yang sedang terjadi saat ini, pemkab merancang proyeknya sendiri dan setelah hampir rampung baru diberitahukan kepada keluarga ahli waris. Jelas ini cara yang tidak elok dipandang dan wajar saja bila keluarga ahli waris merasa tersinggung. Istilah dalam bahasa Nias: laföfölö furira.

Mungkin belum terlambat kalau pemkab mau berkomunikasi dengan keluarga ahli waris Saönigeho secara tulus, bukan terpaksa atau dipaksa oleh keadaan karena adanya keberatan-keberatan tadi. Pemkab harus berani membicarakan proyek ini dengan mereka mulai dari awal lagi – bukan dipertengahan apalagi diakhir proyek yang hanya membutuhkan persetujuan dari pihak ahli waris. Ahli waris butuh didengar dan berhak mengetahui tujuan dari pendirian monumen leluhurnya.

Dalam berkomunikasi dengan pihak ahli waris ada baiknya kalau pemkab Nias Selatan tidak melulu menerapkan protokol pemerintah secara kaku. Adalah bijak kalau tata cara/adat istiadat Nias diikutsertakan di dalamnya – sesuatu yang tidak boleh kita lupakan. Ini berkatian dengan siapa menghadap siapa?

Dalam konteks protokol pemerintah Indonesia komunikasi yang terjalin mungkin akan seperti ini: pemerintah kabupaten cukup menyurati pihak ahli waris Saönigeho lalu pihak ahli waris menghadap ke kantor bupati atau lembaga terkait. Cara ini tidaklah salah namun sebagai penghormatan dan pelestarian terhadap budaya lokal kita sendiri yang sarat dengan nilai-nilai moral dan kesantunan maka itu perlu juga diakomodasi.

Saya mengusulkan, pemkab secara resmi tetap menyurati pihak ahli waris dan pihak ahli waris harus menjawabnya secara resmi pula. Sementara protokol itu berlangsung (surat dan jawaban dari kedua belah pihak), tata cara lokalpun harus dilakukan yaitu pemberitahuan secara adat mulai kepada pihak ahli waris, pihak fabanuasa Bawömataluo dan lebih luas lagi kepada Öri Maenamölö bahkan kepada wilayah-wilayah lainnya di Nias. Ini penting karena sosok Saönigeho bukan hanya milik keluarga atau segelintir orang tetapi sudah menjadi milik bersama suku Nias.

Berkaitan dengan tata cara lokal ini, pemkab harus mempertimbangkan satu hal yaitu latar belakang Saönigeho – ia adalah balö ziulu yang pernah memerintah di Bawömataluo dan berdiam di Omo Nifolasara, rumah yang sarat dengan makna salah satunya akses untuk masuk ke dalamnya yang dirancang sedemikian rupa.

Untuk memasuki rumah Saönigeho ini, seseorang harus melewati bagian bawah rumah. Ini bukan sekedar jalan tetapi tata cara untuk menghormati sang pemilik rumah yang adalah raja pada zamannya. Jadi bila memang pemkab sungguh-sungguh menghormati perjuangan Saönigeho maka bupati sendiri harus datang ke rumah itu dan menyampaikan niat baiknya dalam forum yang disebut orahua.

Dan seandainya bupati Nias Selatan merasa terlalu besar untuk datang menghadap ke rumah Saönigeho maka ia boleh mengutus pembantunya sebagai wakilnya. Saya rasa ini cara yang santun. Kedua belah pihak akan merasa saling dihargai. Moadu-madu göi jimöi, ba moadu-moadu göi jiso.

Himbauan

Akhir dari tulisan ini saya menghimbau semua pihak baik dari pemkab Nias Selatan maupun ahli waris keluarga Saönigeho melupakan kesalahpahaman yang sudah terjadi. Rencana membangun monumen Saönigeho ini adalah untuk kepentingan kita bersama karena itu mari lakukan bersama-sama pula. Dan tentu saja kedepankan sikap yang saling menghormati. Tambahan: kiranya semangat perjuangan Saönigeho di masa lalu terimpartasi kepada kita semua soi Donö Niha. (ns1)

* Penulis adalah Pemerhati Budaya Nias, tinggal di Jakarta

 

 

About the Author
  1. florentina Reply

    Saya pribadi salah satu ahli waris Kakek Saonigeho Fau sangat berterima kasih pd sdr. Novelman Samuel Wau yg kembali mengangkat berita ini setelah kemarin peresmian pangkalan angkatan laut di T. Dalam Nias Selatan dan dengan argumen yg sangat baik menguraikannya. Pada umumnya segala hal2 yg baik yg dilaksanakan pemerintah daerah untuk mengangkat nama kebesaran kakek kami Saonigeho yang akan menjadi kebanggaan kita semua bagi saya pribadi itu harus didukung, hanya saja banyak hal2 yg hrs diperhatikan spt yg sdr. Novelman uraikan diatas. Apalagi yg sangat menyakitkan bg sbgn ahli waris ada pihak2 yg mengaku Dia adalah ahli waris Kakek Saonigeho Fau padahal msh ada ahli waris yg lain yg bs diajak bicara. Semoga dgn polemik yg terjadi akhir2 ini dpt menggugah hati berbagai pihak utk duduk bersama menyelesaikannya. Bravo untuk Angkatan Laut Nias Selatan sukses dan jaya terus.

  2. Bambu Mata 2 Reply

    Bung, terkadang yang BAIK belum tentu BENAR, tetapi yang BENAR akan BERGUNA..
    terima kasih ulasannya. JAYA “SAONIGEHO” JAYA “NIAS” JAYA “INDONESIA”

Leave a Reply to Bambu Mata 2 Cancel reply

*

Translate »