Menalar Gelar Adat “Tuha Samega Asi”, Bermakna atau Salah Kaprah? (Sebuah Interpretasi)

Marselino Fau | Dokumen Pribadi

Marselino Fau | Dokumen Pribadi

Oleh Marselino Fau*

Pengantar

Di bulan November ini, ada dua peristiwa menarik yang terjadi di pulau Nias. Pertama adalah Menteri Hukum dan HAM Yasona H. Laoly menolak menerima gelar “Balugu” yang akan diberikan oleh Forum Kepala Daerah (Forkada) di Pulau Nias. Dan yang kedua, penganugerahan gelar adat kepada KSAL Laksamana TNI Dr. Marsetio pada tanggal 20 November yang lalu dengan sebutan “Tuha Samega Asi”.  Yang dianugerahi gelar sama-sama pejabat negara, yang satu adalah menteri kebetulan orang Nias dan satu Kepala Staf Angkatan Laut bukan berasal dari Nias.

Menteri Yasonna menolak menerima gelar Balugu karena tidak memiliki kapasitas untuk gelar tersebut dan menurut saya alasan itu benar dan tepat. Sedangkan penganugerahan gelar adat kepada KSAL Laksamana TNI Dr. Marsetio berjalan dengan lancar dan menurut saya hal ini juga bisa dibenarkan bila alasannya adalah memperkenalkan bahasa dan budaya Nias dan tanda hormat. Dua peristiwa ini menjadi iklan promosi Pulau Nias dangan konten bahasa dan budayanya. Bedanya ada yang gratis dan ada yang tidak.

Penganugerahan gelar “Tuha Samega Asi”  kepada KSAL Laksamana TNI Dr. Marsetio memiliki dimensi pelestarian bahasa Nias (li niha) dengan keunikan logat Nias Selatan sebagai sarana promosi mamperkenalkan budaya Nias yang sarat makna. Pertanyaan yang timbul adalah apakah  ide pemberian gelar adat ini untuk tujuan tersebut? Dan jika demikian apakah gelar adat “Tuha Samega Asi” memang sungguh bermakna atau sebaliknya?

Makna di Balik kata

Bahasa adalah salah satu ciri khas manusia. Demikian halnya bagi orang Nias, salah satu ciri khasnya adalah bahasanya yang unik yang disebut “Li Niha”. Bahasa Nias (Li niha) masih memiliki keunikan lagi dari sisi pelafalannya, ada logat si fakandrõ, si fabadaõ dan si fabagane.  Bagi orang Nias, Li Niha tidak hanya sekedar alat komunikasi tetapi sering menjadi media “kanvas untuk melukiskan” sosok seseorang dengan karakteristiknya.

Dari satu, dua atau tiga kata kita bisa mendapat satu ungkapan yang menyimbolkan kepribadian sosok yang dideskripsikan serta kompetensinya. Akan tetapi bagi subjek yang dilukiskan, bagai nazar dalam dirinya yang menuntut pembuktian.

Dalam budaya Nias, simbol dalam bentuk ungkapan (gabungan beberapa kata) yang dianugerahkan kepada seseorang menjadi hak paten sang sosok yang disimbolkan dan keluarganya secara turun temurun. Maka tidak mengherankan bila seseorang menyandang nama yang bukan hak paten keluarganya akan dicibir, “õ fake tõiu ji tena tõiu” artinya “Anda menggunakan nama yang bukan namamu”.

Apabila ada anggota keluarga yang akan di’waris’kan nama tersebut, bisa menyandang penuh dan juga bisa hanya sebagian dari simbol tersebut. Contohnya Siliwu Gere, keturunannya hanya mengunakan Maduwu Ziliwu, atau bisa juga mengambil menyandang nama lain jika merasa tidak layak menyandang nama/julukan tersebut. Hal ini tidak berlaku bila simbol ini diberikan kepada orang lain (di luar orang Nias).

Bagi orang Nias, makna yang disampaikan dalam simbol (berupa kata) lebih mendalam artinya bila itu disampaikan dalam bahasa Nias daripada menggunakan bahasa lain. Karena Li Niha bukan sekedar alat komunikasi tetapi sebagai simbol kepribadian yang dibangun dari akar budaya orang Nias (alam berpikir orang Nias). Dengan demikian untuk memahaminyapun harus lewat alam pemikiran orang Nias. Tanpa itu, sukar dihayati maknanya.

Sebagai contoh, gelar “Lawa Zihõnõ” diberikan kepada seseorang yang memiliki kapasitas melebihi orang-orang yang berjulukan zihõnõ, Siwa Nahõnõ, Ama Zihõnõ dan zihõnõ-zihõnõ lainnya. Karena kemampuannya melebihi dari mereka maka diberi julukan “Lawa Zihõnõ”.

Demikian juga halnya dengan gelar yang diberikan kepada KSAL Laksamana Dr. Marsetio dengan gelar adat  “Tuha Samega Asi” dalam bahasa Nias. Tentu pemberian gelar adat ini ada maksud dan tujuannya. Mungkin untuk memperkenalkan keunikan Li Niha dan menghormati KSAL atas persemian pembangunan pangkalan Angkatan Laut di Pulau Nias. Tetapi bagaimana dengan maknanya, untuk menemukan maknanya mari kita lihat bentukan katanya terlebih dahulu.

Sebelum kita menalar lebih lanjut ada baiknya kita memahami laut (asi) dalam kehidupan orang Nias jaman dulu sebelum mereka mengenal profesi Angkatan Laut. Bagi orang Nias aktivitas yang biasa mereka lakukan di laut adalah “mõi baene” (menangkap ikan dengan cara tradisional) sebelum mereka mengenal kail. Setelah mengenal kail dalam bahasa Nias disebut “gai”, maka aktivitas mõi baene mulai ditinggalkan.

Sebuah fakta di banua Hilizihõnõ, perkampungan dekat laut ada seorang yang dijuluki “Sa Megai Asi”. Julukan ini diberikan karena berkaitan dengan aktivitasnya yang suka melaut (same gai ba nasi) artinya yang membawa kail di laut atau yang membawa/memancing di laut. Kemudian dari aktivitasnya tersebut dibuat satu ungkapan yang merepresentasikan kepribadiannya yakni ‘sa megai asi’ artinya orang yang hilir mudik ke laut atau suka melaut.

Sekarang mari kita menalar kata Samega dalam nama “Tuha Samega Asi”. Kata Samega, dalam bahasa Nias Selatan (Teluk Dalam dan sekitarnya) tergantung asal katanya, bisa terdiri lebih dari satu makna. Penulisannya pun, sebenarnya, tidak satu kata ‘Samega’. Itu bisa dua atau tiga kata, tergantung kata dasarnya.

Pertama, Samega (yang seharusnya ditulis ‘sa me ga’) terdiri dari tiga kata, yakni sa (yang, orang), me (memberikan atau membawa, yang melakukan aktivitas), ga (di sini. Bisa juga ga’õ. Bahasa Nias bagian utara, ba da’a). Me ga itu dalam format dasarnya be ga (bukan bega) yang berarti ‘letakkan, berikan, serahkan di sini (kepada saya).’ Jadi, ‘sa me ga’ kalau digabung dengan kata ‘Asi’ maka berarti ‘orang yang membawakan, menyerahkan atau meletakkan laut di sini.’  Tentu saja, tanpa penjelasan yang cukup, kata Samega dalam gelar itu bisa disalah pahami karena tidak mengandung makna sama sekali. Tidak mungkin seseorang meminta membawa laut kepada seseorang di tempat berbeda. Dan pasti bukan itu yang dimaksudkan dalam gelar itu.

Kedua, Samega terdiri dari dua kata, yakni, Sa (orang, yang melakukan) dan Mega, dari kata dasar bega yang berarti langkah. Contohnya dalam kalimat ‘sambua bega atau sambua bega-bega’ artinya selangkah. Penambahan kata tugas ‘sa’ pada kata dasarnya ‘bega’ menjadi “sa mega” dimana secara fonetik b menjadi m. Jika seperti itu penjelasannya yang ada dibenak pengide, maka tetap sulit menemukan artinya. Kecuali bila kata yang dimaksud dibentuk dari kata ‘begai’ artinya langkahi maka ketika dibentuk kata baru menjadi ‘samegai’ artinya ‘yang melangkahi.’

Tapi, mesti diperhatikan, makna kata begai itu, bukanlah tindakan berulang-ulang. Tapi, hanya sekali dilakukan. Jadi, kalau pengide memaknai Samega itu untuk mendeskripsikan kekuasaan atas samudera raya yang sifatnya terus menerus, maka kata Samega itu tidak tepat karena maknanya bukan tindakan berulang.

Sebaliknya, makna deskriptif itu justru ada dalam kata keka. Kata keka memiliki makna netral dan juga makna yang bisa menunjukkan “power”. Contoh, mai keka atau mai kekai artinya dia sudah mengkangkangi (terus menerus sebagai tanda kekuatan sebagai penguasa). Bandingkan dengan kalimat “mai begai” (dia sudah melangkahi), hanya mengandung makna yang netral dan sekali saja.

Secara faktual tidak ada seorang pun yang bisa melangkahi lautan dalam satu langkah ataupun mengangkangi lautan akan tetapi alam pemikiran orang Nias menerima bahwa hanya makhuk “jihi” yang bisa mengangkangi lautan. Makhluk ini punya kemampuan yang luar biasa. Di sinilah orang Nias selalu mengkomparasi kapasitas seseorang dengan penggunakan simbol berupa kata yang tepat. Bukan karakteristik ‘jihi’ yang mau diadopsi tetapi karakter kata dalam kata keka atau kekai itu yang mau diberi makna.

Coba kita lihat ungkapan yang dibentuk dari kata dari sa dengan kekai menjadi sa nekai, atau so dengan keka menjadi so keka. Sehingga bila digabung dengan kata asi menjadi ‘sa nekai asi’ atau ‘so keka asi’ atau saat dilafalkan bisa juga menjadi “so gega asi”. Baik ‘sa nekai asi’ maupun ‘so keka asi’ memiliki arti ‘yang mengangkangi laut’. Keduanya menunjukkan sebuah karakter bahwa lautan di bawah kendali atau dibawah penguasaan yang mengangkangi.

Dengan mendasarkan pada pola bentukan kata di atas dan memahami maknanya, maka kata yang lebih tepat digunakan untuk mendeskripsikan kemampuan KSAL adalah dari kata keka atau kekai, bukan bega (bega-bega) atau begai. Terlebih bila kita kaitkan bahwa aktivitas melaut yang ada dibenak orang Nias sebelum mengenal profesi Angkatan Laut adalah ‘same gai ba nasi’ maka sangat tidak merepresentasikan tugas seorang KSAL. Pekerjaan KSAL bukan hilir mudik ke laut atau melaut tetapi menjaga laut Indonesia. Yang hilir mudik adalah anak buahnya.

Lebih lanjut, baik Sa Megai Asi maupun Sa Nekai Asi atau So Keka Asi bila didahului kata Tuha maka kata tersebut berfungsi menjelaskan kapasitas kata yang mendahuluinya. Pertanyaannya siapa sosok dibalik kata Tuha tersebut dan apa kapasitasnya?

Laksamana Marsetio | wikipedia.org

Laksamana Marsetio | wikipedia.org

“Tuha” apa artinya?

Dalam mite orang Nias tentang keturunan orang Nias kita sering mendengar nama-nama dalam mite yang didahului dengan kata Tuha” misalnya Tuha Nihai Hai Nani, Tuha Aloloa Nani, Tuha Luluo atau Tuha Golu Banua atau Tuha Bawondrege Danõ, dll. Pertanyaannya apakan kata Tuha’ ini  gelar atau nama.

Dalam mite orang Nias, Tuha tidak disebut sebagai sebuah gelar tetapi sebagai sebuah identitas sebagaimana nama yang lain yang disebutkan dalam mite Nias seperti nama Sirao atau Hia. Dalam sebuah laporan penelitian tentang sejarah perjuangan masyarakat Nias, sebuah informasi disebutkan bahwa Tuha adalah hanya sebuah nama. Jadi Tuha dalam mite maupun kehidupan ril orang Nias adalah hanya sekedar nama atau identitas.

Pada perkembangannya sebutan “Tuha” tetap digunakan sebagai nama kepada orang-orang tertentu saja. Misalkan saja di Bawõmataluo ada yang disebut Tuha Famaedo Danõ, Tuha Siliwu Niha, Tuha Somasi Niha dan Tuha Sanofu Bõrõ. Contoh lain di Hilisimaetanõ, nama sebelumnya adalah Bawõmaenamõlõ. Jadi di banua Hilisimaetanõ ada yang bernama Tuha Maenamõlõ.

Dalam budaya dan tradisi Nias nama Tuha hanya diberikan kepada para Si’ulu (balõ zi’ulu) atau Balugu dan tidak diwariskan dan limpahkan kepada keturunannya. Kecuali jika yang terjadi seperti apa yang dikatakan Hikayat Manaõ dalam lagunya, “maõfamawa, maõfabua, maõkuyu, mõiha ndraugõ ba dõdõu ho amagu.” (Telah kau jual, kau pindahkan, kau curangi asal (demi) engkau mencapai keinginan hatimu). Jika demikian, tentu makna kata Tuha ini makin jauh dari alam pemikiran kita. Walau demikian tentu kita juga perlu bertanya apa maknanya dalam kehidupan ril orang Nias.

Tuha dapat diartikan nenek moyang.  Bila di setiap banua ada yang dinamai Tuha itu artinya bahwa nenek moyang atau leluhur di perkampungan itu adalah si A , si B, si C dst. Tuha Famaedo Danõ (Famaedo Danõ nama lain dari Bawõmataluo) jadi artinya Siempunya nama itu adalah leluhur Bawõmataluo, Tuha Siliwu Niha artinya leluhur sepuluh ribu manusia di Bawõmataluo, Tuha Somasi Niha artinya leluhur yang dicintai oleh warga Bawõmataluo, Tuha Sanofu Bõrõ adalah jika ingin bertanya tetang asal usul leluhur Bawõmataluo inilah orangnya. Tuha Maenamõlõ artinya bahwa luluhr Bawõmaenamõlõ/Hilisimaetanõ adalah yang bernama Tuha Maenamõlõ. Jadi Tuha merujuk pada pengertian leluhur atau asal muasal.

Kata ini mudah difahami bila kita pernah mendengar mite orang Nias khususnya di Nias Utara. Bila terjadi gempa bumi maka orang Nias dalam mite tersebut mengatakan “biha Tuha” yang artinya cukup nenek moyang, jangan guncang-guncang lagi. Kita juga bisa memahami kata Tuha dengan memahami bentuk kata akibat pelafalan dimana dalam bahasa Nias sering terjadi, seperti kata Takhi menjadi Dakhi bahkan sekarang ada yang merubahnya menjadi Dachi. Demikian juga kata Tuha atau Duha (Pastor Yohanes dalam bukunya Omo Sebua) dapat dipahami dalam kata ‘dua’ (kakek). Jadi makna yang dimaksud dalam sebutan Tuha adalah nenek moyang/leluhur. Kata Tuha akan menjadi rancu ketika kita mencari pengertiannya dalam kamus bahasa Nias-Indonesia dimana  Tuha diartikan “tuan”.

Kesimpulan dan saran

Dalam hal nama Tuha Samega Asi, maka secara gramatika Samega Asi tidak tersirat makna yang menyimbolkan bahwa KSAL memiliki kemampuan mempertahankan, menguasai lautan Indonesia. Akan lain maknanya bila kata yang digunakan adalah kata  “keka” yang membentuk ungkapan jika ditambah dengan kata tugas So atau Sa menjadi “So Keka Asi atau Sa Neka Asi” yang bisa berubah dalam pelafalan menjadi “So Gega Asi”.

Samega Asi menjadi rumit ketika kata ini didahului dengan kata Tuha. Sebagaimana uraian di atas seharusnya jika kata Tuha yang ingin diberi makna maka lebih tepat bila “Tuha Asi Baloho” yang digunakan, artinya leluhur pangkalan angkatan laut di Baloho.

Atau  jika kata Tuha tetap dipertahankan dalam konteks profesi Angkatan Laut, sa megai asi yang dimaksud adalah aktivitas tentara yang hilir mudik di laut bukan melaut, maka kata yang tepat adalah Tuha Sa Megai Asi, secara harafia dapat diartikan ‘leluhur yang melewati laut’ maknanya yang tersirat adalah leluhur para tentara angkatan laut walaupun secara budaya butuh alasan yang logis sebab sebelumnya pak Yasona H. Laoly sebagai pejabat negara menolak gelar balugu.

Jika yang hendak dimaksudkan adalah tugas dan pengawasannya maka lebih baik menggunakan gelar Bohalima “So Keka Asi/Sa Neka Asi” atau Bohalima “So Gega Asi”.

Berdasarkan penalaran di atas rasanya sulit menjelaskan pemberian gelar adat “Tuha Samega Asi”  kepada KSAL Laksamana TNI Dr. Marsetio baik dari sisi gramatika maupun budaya Nias. Pemberian gelar adat hendaknya mengesampingkan kompromi karena alasan tidak dimengerti oleh si anu dan si ani. Justru dalam konteks promosi bahasa itu harus ditonjolkan bukan sebaliknya yang mengakibatkan ambiguitas. Apakah pemberikan gelar adat “Tuha Samega Asi” bermakna atau salah kaprah, gunakan nalar sebelum menjadi “nazar” KSAL.

Selamat menalar.

*) Penulis adalah pemerhati budaya Nias Selatan, tinggal di Jakarta.

 

About the Author
  1. Doni Kristian Dachi Reply

    Sebenarnya diluar topik, tapi agak menganggu paragraf ini

    “Kita juga bisa memahami kata Tuha dengan memahami bentuk kata akibat pelafalan dimana dalam bahasa Nias sering terjadi, seperti kata Takhi menjadi Dakhi bahkan sekarang ada yang merubahnya menjadi Dachi.”

    Kalimat ‘bahkan sekarang’ menganggu buat saya. Kecuali penulis punya bukti kuat bahwa dari dulu penulisannya adalah DAKHI, saya pikir tidak tepat mengatakan bahwa baru sekarang DAKHI dirubah menjadi DACHI.

    ‘CH’ pada DACHI adalah pengaruh ejaan Soewandi yang berlaku dari tahun 1947 – 1972. Orang-orang yang lahir ditahun itu selalu menggunakan DACHI sebagai marga mereka. Jadi bukan DAKHI dirubah sekarang menjadi DACHI. Justru terbalik, DACHI yang dirubah menjadi DAKHI pada masa sekarang. (Walaupun, sebagian masih mempertahankan termasuk saya, tentu dengan alasan tersendiri)

    Mungkin penulis harus lebih teliti lagi sebelum mempresentasikan sebuah data, apalagi tujuan artikel ini buat belajar menalar :)

    • Marselino Fau Reply

      Bung Doni Kristian Dachi

      Pertama sekali mohon maaf kalau tulisan saya menganggu buat Doni.
      Dan terima kasih atas masukannya “mungkin penulis harus lebih teliti lagi sebelum mempresentasikan sebuah data”.

      Sebagaimana sebuah logika penalaran seharusnya saya harus buktikan dulu, dan jika setelah diuji pembuktian saya keliru maka baru disimpulkan bahwa dasar penalaran saya keliru. Hehehehe.

      Berkaitan dengan permintaannya bahwa kalau bisa dibuktikan, dengan sangat senang hati saya akan mencoba membuktikannya sbb :
      A. 1. Ejaan Republik (edjaan Republik atau edjaan Soewandi, dikutip dari wikipedia) adalah ketentuan ejaan dalam bahasa Indonesia.
      2. Edjaan Soewandi tepatnya sbb :
      a. Huruf ‘oe’ menjadi ‘u’, seperti pada goeroe → guru.
      b. Bunyi hamzah dan bunyi sentak yang sebelumnya dinyatakan dengan (‘) ditulis dengan ‘k’, seperti pada kata-kata tak, pak, maklum, rakjat. Tanda diakritik seperti koma hamzah, koma ain dan tanda trema dihilangkan.
      c. Kata ulang boleh ditulis dengan angka 2, seperti ubur2, ber-main2, ke-barat2-an.
      d. Awalan ‘di-‘ dan kata depan ‘di’ kedua-duanya ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata depan ‘di’ pada contoh dirumah, disawah, tidak dibedakan dengan imbuhan ‘di-‘ pada dibeli, dimakan.
      3. Dalam Ejaan edjaan Soewandi saya BELUM menemukan bahwa “C” atau “CH”’berubah menjadi “K”atau “CK”. Huruf “c” bukan bunyi Hamzah atau bunyi sentak atau tanda diakritik.
      4. Berdasarkan edjaan Soewandi kalau itu yang dijadikan alasan seharusnya awalnya adalah kata Da’hi sehingga berubah manjadi Dakhi.
      5. Sampai sekarang orang Nias masih menggunakan koma di atas (’) dalam bahasa Nias. Logikanya tanda ini, koma di atas (’) kalau edjaan Soewandi benar berpengaruh dalam bahasa Nias, kok tanda ini tetap digunakan.

      Sebagaimana peruntukannya di atas edjaan Suandi berlaku hanya untuk bahasa Indonesia bukan bahasa Nias.

      B. Dalam sebuah buku karya ilmiah tentang bahasa Nias (disusun Tim dari Nias Salatan, mereka lahir pada masa edjaan Soewandi berlaku) yang dibuat pada tahun 1982 dan diterbitkan pada tahun 1985 terbitan Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Depdikbud yang Prakatanya ditanda tangani oleh Anton M. Moeliono (Kepala Pusat Pembinaan Bahasa) dihalaman xi ditulis sbb :
      “Fonem /c/ pada semua posisi sedikit sekali dipakai. Fonem ini terdapat hanya di desa-desa sekitar Teluk Dalam bagian Selatan Nias”. Dari identifikasi kata tentang berkaitan dengan fonem c hanya ada 10 kata, tidak termasuk kata dachi.

      C. Dalam buku Asal Usul Masyarakat Nias (P. Johannes hal 73) tertulis Takhi. Berarti kalau terjadi perubahan mestinya dari Takhi ke Dakhi baru ke Dachi. Dengan berpedoman dengan dua karya ilmiah di atas saya belum menemukan alasan yang tepat bahwa dachi lebih dulu baru dakhi.

      D. Saya hanya mau mengunakan sebagai pembanding (bukan sebagai kebenaran) sebuat catatan yg dibuat oleh orang asing yang dikutip oleh Pastor Yohanes Dalam buku Asal Usul Masyarakat Nias (P. Johannes hal 29) kata Zalukhu (punya persamaan kata dengan Dakhi) sudah ditulus seperti ini ejaannya pada tahun 1934 sebelum edjaan Suandi tahun 1947 – 1972 berlaku di Indonesia.

      E. Melihat kurun waktu tahun 1947-72 orang Nias bisa dihitung dengan jari siapa yang melek ejaan Suandi.

      F. Demikian fakta-fakta yang bisa saya ajukan sebagai bahan penalar dengan berpedoman pada dua karya ilmiah di atas.

      Saohagolo…

      • Doni Kristian Dachi Reply

        Gini lho, penggunaan CH pada DACHI itu bukan dimulai pada masa sekarang, Anda boleh cek di Telukdalam, Hilisimaetanö, dan sekitarnya di dokumen-dokumen lama yang memuat nama-nama orang yang bermarga Dachi. Pasti akan tertulis begitu. CH ini masih menggunakan ejaan Soewandi yang mempertahankan beberapa aturan dari ejaan lama (Van Ophuijsen). Nah, kalau anda belum pernah melihat ini sebelumnya, simpulan yang paling tepat adalah anda kurang banyak melihat dan kurang banyak tahu, bukan membuat pernyataan bahwa yang anda tahu itu benar.

        Lalu, buku Famatö Harimao, cetakan pertamanya tahun 1986, inilah kenapa dia menggunakan KH, bukan CH. karena pada tahun itu Ejaan Soewandi sudah berubah menjadi Ejaan Yang di Sempurnakan. Begitu juga dengan buku sejarah yang anda sebutkan diatas. Ini sama seperti buku-buku lain.

        Menggunakan tanda ‘ diatas adalah pengaruh bahasa Jerman. Di Nias, kita tidak mengenal aksara, kita tidak mengenal tata-bahasa, orang-orang jermanlah yang memperkenalkan kita pada penulisan kata-kata kita. Seriring dengan berjalannya waktu, masuk juga pengaruh penulisan ala Melayu (Indonesia) yang merupakan linguafranca di Indonesia. Pencampur-adukan ini yang bikin ada beberapa ketentuan dari tatabahasa indonesia kita pergunakan, namun juga mempertahankan beberapa hal dari orang-orang jerman.

        Saya mengkritisi nalar anda, karena dalam artikel diatas, anda selalu membuat simpulan yang seolah-olah apa yang anda tahu adalah sebuah kebenaran. Padahal ada banyak fakta lain yang anda tidak tahu tapi anda abaikan begitu saja. Salam :)

        • Marselino Fau Reply

          Artikel saya selalu menyerahkan ke pembaca membuat keputusan sendiri, bahwa fakta yang saya dapat ya itu. saya menulis berdasarkan sumber-sumber itu.

          Saya tahu bahwa fenomena Dachi, itu ada, supaya Anda tahu bahwa Mado Dakhi ditulis juga dalam penulisan yang lain dalam buku yang sering dijadikan referensi, Dachy. Buku Bambowo pada hal. 14 yang lebih tua dari famato harimo dan dalam famato harimao pun juga ditulis hal yang sama. Kalau tidak ada orang yang meluruskan maka betapa banyak kita membiarkan kesalahan merusak jati diri kita. terus kita mau membenarkan apalagi dengan hal-hal seperti ini dengan ejaan apalagi ini dan ono. Bukan itu jawabannya. Mau berdebat begini dan begono ada saja celanya untuk disalahkan dan dibenarkan dan tidak menyelesaikan masalah.

          Poin saya jangan kita biarkan kesalahan-kesalan penulisan menjadi hal yang biasa, jika banyak orang Nias yang pintar (seperti Doni) hendaknya mengunakan talentanya untuk meluruskannya, jangan didiami. Karena akan menjadi referensi-referensi yang tidak tepat, jangan kita berlindung pada teori-teori yang bisa diperdebatkan menjadi alat pembenaran.

          Saya mau memberi contoh dalam buku tipologi rumah nias ada beberapa istilah yang diberi arti, salah. Salah satu adalah ULAHE diartikan sebagai Tempat Penyimpanan Makanan.
          Dan saya langsung hubungi penerbit untuk mengoreksinya dan merekapun langsung menindaklanjuti ke penulis. karena akan menjadi referensi bagi para mahasiswa/i jurusan arsitek.

          Kalau Doni benar-benar bisa menalar apa yang saya tulis dalam artikel itu sebenarnya sederhana saja. Mau Samegea atau Samigu nama yang diberikan itu tidak masalah asalkan kita bisa menjelaskannya dari mana dan masuk akal. Karena akan menjadi referensi kepada yang lain. Asalkan jangan diakal-akali. Cuma saya memberi contoh itu, mungkin sebaiknya saya tulis “ada juga yang menuliskan” bukan “merubahnya” biar tidak mengganggu. hehehehehe.

          Salam.
          Saohagolo

    • Ya'ahowu Reply

      Waktu kami SD thn 1965 kami diajari bunyi kh ditulis CH oleh inada gawe/suster/pastor moroi Belanda dan Jerman. jd mereka menulis menjadi ch. Ini Bukan pengaruh ejaan suandi.

      Yaahowu

      • Marselino Fau Reply

        @Ya’ahowu…..Benar, bunyi “CH” dalam bahasa Jerman seperti kata pada “Ich”. sama dengan bunyi “KH” pada bahasa Nias. Sebenarnya menjelaskan fenomena CH dalam bahasa Nias sangat sederhana, karena pengaruh pelafalan bahasa jerman, KH sama dengan CH. Logika “orang yang tidak tahu” selalu sederhana.

  2. Study Duha Reply

    Yang memberi gelar kepada KSAL Laksamana TNI Dr. Marsetio adalah orang gila. Tidak dipungkirin lagi masyarakat Nias dan Nias Selatan pada umumnya hanya mementingkan diri sendiri. Pemberian Nama berdasarkan strata sosial lokal yang bercirikan pada kemampuan mensejahterahkan dan melindungi rakyaknya. Pemberian nama atau gelar bukanlah sekedar sebagai sebutan saja, tetapi mencangkup harkat dan matabat yang secara hakiki tidak dapat dibrikan kepada orang yang tak pantas menerimananya. Kebiasaan masyarakat Pulau Nias bahwa yang berhak mendapatkan gelar nama atau jabatan dalam strata sosial masyaraknya adalah keturunan bangsawan bukan pendatang. Pendatang dalam bahasa Nias adalah sifatewu, sanaonda, atau sikholo. setiap sifatewu, sanaonda atau sikholo merupakan budak dari raja-raja dinias dan wajib mengikuti kaidah atau kebiasaan masyarakat setempat. Seorang budak tidak berhak mendapatkan gelar, nama atau strata sosial yang tinggi. Jadi pemberian nama Tuha Samega Asi kepada Kasal adalah orang yang tidak mengerti dan memahami nilai-nilai sossial Ono Niha dan hanya mendapatkan keuntungan pribadinya sendiri.

  3. Rahmat Alyakin Dachi Reply

    Saya tertarik dengan pemahaman anda tentang kata “SAMEGA”. Kata SAMEGA merupakan metamorfosis dari kata “Sa” + “Keka” yang bermakna “PENJAGA/PENGUASA/YG MEMBAWAHI”. Sampai hari ini di desa saya Hilisimaetano masih dipergunakan kata “samega” untuk penjaga kebun dengan kata SAMEGA WENUA.

    Memang suatu kata dapat diketahui artinya secara etimologis. Namun suatu kata tidak hanya terbatas dari makna denotatifnya saja tetapi juga konotatif, apalagi bahasa Nias secara umum banyak mengandung makna-makna simbolis. Makna denotatif SAMEGA = YG MENGANGKANGI. Tapi makna konotatifnya adalah PENJAGA/PENGUASA/YG MEMBAWAHI.

    Oleh sebab itu, menurut saya kata ‘SAMEGA’ sudah tepat diberikan kepada KSAL.

    Dari: Rahmat Alyakin Dakhi – Masyarakat Biasa

    • Marselino Fau Reply

      @Rahmat Alyakin Dachi atau Dakhi Terima kasih sudah bersumbang saran membuka cakrawala kita.Catatan saya :
      1. Kita harus menyadari bahwa sekarang ini kita TIDAK SEDANG hidup dalam bahasa lisan, tetapi dengan menggunakan bahasa tulisan bahkan dengan kecanggihan teknologi sekarang kita bisa berkomunikasi dengan yang lain di ujung dunia. Di Fb Nias Satu ada seorang yang berkomentar dia bertanya sana sini kpd orang nias tidak ada yang mengerti.
      2. Dalam topik di atas saya tidak semata-mata menyoroti secara parsial hanya kata semega, tetapi tiga kata itu menjadi satu kesatuan.
      3. Kita anggap dulu makna yang dimaksud adalah makna konotatifnya PENJAGA/PENGUASA/YG MEMBAWAHI benar, tetapi mucul satu pertanyaan apakah sudah tepat menggunakan kata tuha didepannya abaikan dulu bentukan katannya benar atau tidak.
      4. Bukankah kalau kita menggunaka kata tuha di depannya, kita akan merujuk pada satu sosok yang pantas disebut ‘tuha’ adalah Laksamana III Mas Pardi. Karena beliaulah neneka moyang Penjaga/ Penguas/ Yang Membawahi Lautan Indonesia. Bukan Marsetio. Dan Lagi Pak Yasonna Laoly sudah memberikan contoh yang benar dan tepat bagaimana memperlakukan gelar adat.
      5. Nama Tuha (saya tidak menyebutnya gelar) itu adalah nama yang diberikan kepada si’ulu atau balugu, yang menjadi pertanyaan sejak kapan nama ini bisa dialihnamakan? Apakah hanya dengan menggunakan nama tuha maka seseorang BARU MERASA DIHORMATI, tentu tidak masih banyak cara yang lebih pantas.
      Artikel ini hanya mau mengajak kita mari kita lihat lagi budaya kita jangan diobral terus.

  4. Marselino Fau Reply

    @Doni
    Dalam buku Famato Harimoa tertulis bahawa asal Perubahan Marga dari TAKHI ke DAKHI bukan Ke DACHI.

    Andaikan itu adalah pengaruh ejaan Soewandi yang berlaku dari tahun 1947 – 1972 sebelum Buku Famato Harimao diterbitkan saya yakin pasti ada catatan bahawa “Dakhi atau Dachi”.

    Pengalaman sejak tahun 70an pun saya tidak pernah melihat teman-teman saya maupun keluarga dekat yang bermarga Dakhi menulis Dachi dibelakang nama mereka. Baru pada era ini saya melihat ada penulisan DACHI.

    Sama percis dengan kata FAU menjadi WAU mungkin besok atau kapan mereka akan memakai WOU. Dan perubahan ini biasa dan lumrah terjadi dalam bahasa Nias.

    Saohagolo

    • Rahmat Alyakin Dachi Reply

      Lalu, apa hubungannya ?

      Di kampung saya Hilisimaetano semua ijazah tahun 60-an – 70an memang ditulis Dachi koq termasuk kakek saya Ama Mafeti Dachi (Hewafaohi Dachi) dan Bapak Saya Imanuel Dachi. Lalu apa hubungan penulisan Dachi dengan kata “samega” ?

      Apa memang ada hubungan ember dengan lidi ?

      • Marselino Fau Reply

        Tentu tidak ada hubungannya, yang mau dijelasakan bahwa perubahan bentuk kata dalam bahasa nias itu lumrah terjadi, ini hanya sekedar contoh. Contoh lain Fau menjadi Wau dan tidak tetutup kemungkinan besok2 menjadi WOU….. hanya sebatas contoh.

        saohagolo

  5. Bambu Mata 2 Reply

    Dalu-dalu dalu, dalu.

  6. Bambu Mata 2 Reply

    1 kata luas artinya…

  7. Ya'ahowu Reply

    Artikel yang menarik.

  8. YOHANES DAKHI Reply

    berbicara tentang penulisan CH dan KH…itu secara penulisan berdasarkan ejaan masa pak suwandi itu benar,,setelah itu ada ejaan yang disempurnakan menjadi KH…kalau melihat lafal dan pengucaapan dgn logat bahasa khususnya masyarakat Nias Selatan justru yang benar dan yg tepat adalah Dakhi bukan Dachi.
    Moga-moga ini bisa membantu dalam pemehaman kita untuk Marga Dakhi dan Dachi…terima kasih

    • Marselino Fau Reply

      Betul sekali lah itu bro.
      Pada masa ejaan suandi kita menulis fonem KH dengan huruf CH, karena bunyi fonem KH dalam bahasa Nias sama dengan bunyi fonem CH dalam bahasa Jerman. Misionaris jerman yang menulis buku-bukau dan injil dalam bahasa Nias,menggunakan Ch bukan kh akhirnya kita ikut-ikutan menulis seperti itu pada saat itu. Jadi bukan karena pengaruh ejaan suandi maka kita menulis menjadi CH tetapi karena pengaruh bahasa jerman. Simane meifaguru ndraga amada Harefa (guru bhs Indonesiada ba sibolga) ba amada simamora guru bhs Jerman) hahahaahahah masih ingat toh….
      Jadi sekalian kita luruskan yang salah-salah. saohagolo

  9. bazàmakhoi sarumaha Reply

    Pemberian gelar SAMEGAI ASI dlm budaya nias selatan kepada KSAL itu sudah benar & wajar tp penambahan kata tuha itu tidak benar & tidak wajar org yg memberikan nama tuha itu kepada ksal orang yg tidak mengerti adat & budaya di nias selatan. Dlm kehidupan nenek moyang kita di nias selatan ada 5 kasta nama & gelar yaitu tõi ziulu, tõi zi’ila, tõi zamui, tõi zawuyu, & tõi nono mbanua(masyarakat biasa) jadi nama tuha hanya diberikan kpd siu’ulu namun yg wajar kita berikan nama kpd ksal yaitu bohalima atau balõharimao atau sanawõ asi dll saohagõlõ ya’ahowu

Leave a Reply

*

Translate »