Foto Saönigeho di Monumen Saönigeho Salah?

Saonigeho adalah yang mergunakan perlengkap dan mahkota (rai)  | Scroder | Jerome Feldman, Ph.D.

Saönigeho di baris pertama, menggunakan perlengkapan dan mahkota (Rai) | Schroder | Jerome Feldman, Ph.D.

NIASSATU, JAKARTA – Peresmian Monumen Saönigeho di Pangkalan TNI Angkatan Laut (Lanal) Nias di kawasan Baloho, Telukdalam, Kabupaten Nias Selatan ternyata masih menyisakan masalah lain selain protes keluarga ahli waris sebelumnya dan masalah gelar untuk Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Marsetio.Masalah baru tersebut baru disadari beberapa hari setelah peresmian itu oleh KSAL Laksamana Marsetio. Yakni, foto berukuran besar yang dipampang di sekitar Monumen Saönigeho oleh Pemda Nias Selatan melalui panitia, ternyata bukanlah Saönigeho. Sementara di foto tersebut ditulis dengan terang nama Saönigeho dan keterangan “Tuha Siliwugere.”

Foto tersebut tersebar juga di media sosial dan di beberapa media. Informasi kesalahan foto tersebut diketahui berdasarkan keterangan ahli waris.

“Kami tidak tahu kenapa justru foto itu yang dipampang. Padahal, kami sudah siapkan foto yang sebenarnya. Kami akan minta pihak Pemda untuk mencopot foto itu karena bisa memberikan informasi yang salah kepada masyarakat,” ujar ahli waris yang kini tinggal di Omo Sebua, rumah Raja Saonigeho, Mo’arota Fau yang biasa dipanggil Ama Ana, Senin (1/12/2014).

Dia mengakui, sebelumnya sudah menunjukkan foto yang sebenarnya, yang mereka miliki dalam pertemuan dengan Bupati Nias Selatan yang disaksikan juga oleh Camat Fanayama. Tapi, entah kenapa, kata dia, ketika dipampang, justru menggunakan foto yang lain.

“Yang jelas, foto yang saya bawa dan tunjukkan kepada bupati bukan foto yang sedang berdiri di atas batu itu. Karena bukan itu fotonya. Yang saya berikan adalah foto Saönigeho yang ada pada kami. Di foto itu Saönigeho bersama dengan beberapa orang dan menggunakan kelengkapannya,” jelas dia.

Dia menjelaskan, foto yang mereka miliki dulu didapatkan dari seorang peneliti Amerika Serikat yang pernah tinggal beberapa bulan di Omo Sebua, Jerome Feldman. Foto itu dikirimkan kepada cucu Saönigeho yang saat itu tinggal di Omo Sebua, yakni Bazanalui Fau (Ama Fima) dan diakui bahwa itu foto kakeknya Saönigeho. 

Marselino Fau, salah satu keturunan Saönigeho juga memastikan foto yang dipampang tersebut salah.

“Itu bukan Saönigeho, tapi sepupunya. Batu yang di foto itu justru mau didirikan untuk menghormati Saönigeho dan tidak mungkin Saönigeho yang mencari dan membawa batu itu berdasarkan kebiasaan,” ujar dia.

Marselino juga mengaku punya foto pendukung lainnya bahwa yang berdiri di atas batu seperti di foto yang dipampang tersebut adalah orang berbeda atau sepupu dari Saönigeho.

Foto besar yang dipampang di sisi Monumen Saönigeho | Samuel Novelman Wau

Foto besar yang dipampang di sisi Monumen Saönigeho | Samuel Novelman Wau

“Nenek saya, waktu masih hidup menceritakan bahwa orang yang sama dengan yang difoto yang dipampang itu adalah ayahnya, bukan Saönigeho,” jelas Marselino.

Nias Satu juga menghubungi Guru Besar Art History di Hawaii Pacific University Prof. Jerome Feldman, Ph.D. dan meminta penjelasannya. Dia membenarkan bahwa foto itu dulu dia yang kirimkan kepada Ama Fima lebih dari 30 tahun lalu. Dia mengatakan, setelah itu, Ama Fima menyuratinya kembali setelah mengidentifikasi mana Saonigeho di foto itu.

“Pada tahun 19-70-an saya mengirimkan foto itu kepada Bapak Bazanalui Fau dan kemudian dia menyurati saya kembali dan mengidentifikasi bahwa pria yang berdiri di tengah di foto itu (menggunakan perlengkapan) adalah Saönigeho. Foto itu sebenarnya dari buku Schroder volume II, illustration 17. Berdasarkan foto itu, dan ketika saya menemukan foto lainnya, saya percaya bahwa itu adalah Saönigeho,” jelas dia.

Panitia Tidak Tahu Menahu

Sementara itu, ketika dikonfirmasi kepada Ketua Panitia Peresmian Lanal Nias yang juga Kadis Kelautan dan Perikanan Nias Selatan, Samolala Lase, mengaku tidak tahu menahu soal pemasangan foto itu. Dia mengatakan, pemasangan foto itu berdasarkan arahan langsung Bupati Nias Selatan dan dia hanya memfasilitasi.

“Saya sendiri tidak tahu yang mana foto Saönigeho. Juga tidak ada pembahasan mengenai foto itu sebelumnya. Jadi, Bupati yang lebih tahu mengenai hal itu,” ujar dia.

Dia menambahkan, ketika peresmian, dia mengurusi acara di Baloho Indah tempat Lanal dan pusat kegiatan peresmian. Dia tidak ke kawasan Monumen Saönigeho sehingga tidak tahu kalau ada pemasangan foto tersebut.

“Kalau memang foto itu salah, maka seharusnya diganti. Kalau salah ya diperbaikilah melalui pak bupati. Saya sendiri tidak tahu mengenai mana foto Saönigeho,” jelas dia. 
 
Sebelumnya, pembangunan Monumen Saönigeho itu juga memicu polemik. Pihak ahli waris merasa dilangkahi karena tidak dilibatkan dalam penentuan lokasi monumen. Lalu, juga memrotes karena Pemda Nisel telah membuat patung Saönigeho tanpa berkonsultasi untuk memastikan yang mana foto Saönigeho yang sebenarnya. 

Setelah terjadi negosiasi, disepakati nama Saönigeho tetap diizinkan untuk menjadi nama monumen yang dilengkapi dengan tank amfibi dan meriam Marinir TNI AL tersebut. Pihak keluarga juga mengizinkan penggunaan foto Saönigeho sebagai pengganti patung yang ditolak dipasang. Dengan pemasangan foto saja, dianggap cukup untuk memberikan gambaran mengenai siapa Saönigeho. Juga bila dengan foto saja, maka bisa dibongkar lagi setelah diresmikan. (ns1)

About the Author

Leave a Reply

*

Translate »