PERINGATAN HARI PAHLAWAN 2015

Pahlawan Gadungan

Etis Nehe | Dok. Pribadi

Etis Nehe | Dok. Pribadi

Oleh Etis Nehe*

Peringatan Hari Pahlawan tahun ini sejatinya tidak ada yang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Sebagian besar cuma pengulangan ritual/seremoni. Kecuali yang berbeda, biasanya, adanya nama-nama baru yang ditetapkan oleh pemerintah yang berkuasa sebagai Pahlawan Nasional.

Itu rutin sekali. Saking rutinnya, sampai-sampai memeringati jasa para Pahlawan itu selalu diasosiasikan, disamakan dengan menggelar upacara, baris berbaris, lomba cerdas cermat, aneka kegiatan menguji pengetahuan sejarah, dan lain sebagainya. Hal-hal yang sebenarnya hanya hiasan penggembira dan tidak menyangkut substansi. Toh, hal-hal serupa itu juga selalu dilakukan pada kegiatan lain. Apapun hari peringatannya, isinya ya sama. Itu-itu lagi.

Saban tahun terakhir saya gandrung seremoni peringatan Hari Pahlawan. Apalagi karena seperti sudah jadi rahasia umum, seremoni banyak disertai basa-basi. Seremoni itu penting, tapi asal dengan roh dan substansi yang jelas. Tidak sekadar mengulang ritual upacara yang begitu-begitu saja dan pidato yang itu-itu saja. Diulang-ulang saban tahun, namun tetap tanpa bobot dan isi yang bernas.

Ironisnya, sering kali, mereka yang menggerakkan peringatan Hari Pahlawan dan menganjurkan untuk mengikuti jejak para Pahlawan tak jarang adalah orang-orang bermasalah. Mereka berada di sana hanya karena jabatan mereka, baik di pemerintahan maupun di masyarakat. Secara protokoler, mereka memang layak ada di sana. Itu juga yang membuat saya malas dengan seremoni upacara seperti itu.

Saya sendiri memiliki pemahaman dan cara sendiri menghormati dan menghargai para Pahlawan bangsa itu. Sederhananya begini. Para Pahlawan itu, siapapun dia, agamanya apa, latarbelakang profesinya apa, apakah sudah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional atau belum, mereka adalah orang-orang yang memungkinkan saya dan Anda semua hadir di negeri ini hingga saat ini. Bahkan meski dengan kontribusi yang paling kecil sekalipun dan bahkan sering dianggap ‘tak dikenal.’

Mereka adalah orang-orang yang telah menghabiskan hidup, mengumpankan nyawa dan mempertaruhkan masa depannya dan keturunannya untuk negeri yang sekarang para koruptor dengan bebas berpesta di atasnya ini.

Mari belajar menghargai para Pahlawan dengan cara yang substansial. Mereka sudah tidak ada. Keluarganya juga bahkan mungkin tidak menuntut penghargaan, penghormatan dan perlakuan khusus itu. Tapi, satu hal yang mereka tidak akan terima, yakni bila semua pengorbanan itu diobrak-abrik, dijual murah, dicabik-cabik dan dihinakan dengan tindakan-tindakan yang merusak dan menggadaikan masa depan negeri ini pada kepentingan sekelompok orang rakus, koruptor dan aneka jenis perusak lainnya.

Kini kita tidak harus menyandang senjata meski kini lagi banyak yang ingin seperti itu. Nasionalisme dan penghargaan juga tidak harus dengan kewajiban baris berbaris dan penghayatan Pancasila a la orde baru yang hanya menciptakan masyarakat yang hafal butir-butir Pancasila persis seperti anak-anak sekolah memaksa diri menghafal karena akan menghadapi ujian akhir. Menghayati Pancasila dan menghormati para pahlawan tidaklah seperti itu.

Mari menghargai para Pahlawan dengan cara yang substansial. Tak berhenti dengan mengenang mereka saban tahun dalam upacara-upacara yang membosankan itu.  Tapi mari, minimal dengan cara-cara seperti ini.

Pertama, jangan [ikut] merusak negeri ini. Bila tidak ambil bagian, dan minimal bisa mencegah diri sendiri melakukan tindakan merusak negeri ini, itu sudah hal besar yang menunjukkan Anda menghargai para Pahlawan yang dulu memperjuangkan negeri ini.

Menghargai Pahlawan, sesederhana itu, jangan merusak yang telah mereka perjuangkan dengan susah payah. Terus berjuang mempertahankan dan menjaga kehidupan bersama di negeri ini dengan tidak merusaknya. Termasuk menjaga dan mempertahankannya dari orang-orang atau kelompok-kelompok yang suka mengklaim negeri ini milik mereka dan kelompoknya.

Kedua, jangan menyamakan para Pahlawan sejati itu dengan para pengkhianat yang mengorupsi dan menghancurkan negeri ini untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya. Memecah-mecah negara ini seolah milik pribadi dan kelompok tertentu saja.

Pahlawan a la Pilkada

Ketiga, waspadai pahlawan gadungan. Jangan sandingkan apalagi menyamakan para perampok, pencuri dan perusak negeri ini dan masyarakatnya dengan Pahlawan yang menghabiskan hidup dan masa depannya untuk mendirikan negeri ini.

Karena itu, perlu kejelian membedakan antara Pahlawan sejati dengan para pahlawan gadungan itu.

Kehadiran para pahlawan gadungan ini salah satunya harus diantisipasi dalam proses Pilkada yang yang tahapannya kini sedang berlangsung. Suksesi politik lima tahunan ini tak mungkin saja disalahgunakan menjadi lahan subur bagi para pahlawan kesiangan itu.

Mereka adalah para koruptor dan pemeras uang rakyat untuk kepentingan diri sendiri, kelompok dan keluarganya. Bisa saja mereka ikut dalam Pilkada karena uang dan kekuasaan yang mereka miliki. Di depan warga mereka akan berusaha mencitrakan diri seperti pahlawan. Salah satunya dengan menyuap masyarakat dengan lembaran rupiah, barang dan janji agar memilihnya pada Pilkada 9 Desember 2015.

Tipe pahlawan gadungan ini biasanya [akan] melakukan kebaikan kecil namun terlihat dan menarik perhatian masyarakat. Tetapi sebenarnya dilakukan untuk menutupi kebiasaannya mencuri/korupsi. Bahkan, bisa jadi uang yang digunakan sebenarnya adalah uang rakyat yang dicurinya bersama gerombolan kelompok dan keluarganya melalui berbagai cara. Masyarakat yang kurang paham dengan mudah ditipu sehingga mengesankan rombongan gadungan ini seolah pahlawan sejati.

Menempatkan dan menyandingkan para perusak, koruptor, pengkhianat komitmen kebangsaan sebagai Pahlawan, sama saja mencampakkan perjuangan tak ternilai harganya dari para pendahulu negeri ini.

Karena itu, bagi yang akan ikut Pilkada, mari, jangan pernah memilih koruptor dan orang-orang bermasalah menjadi pemimpin atau pahlawan di negeri ini, di daerah Anda. Teliti sebelum memilih. Jangan karena sedaerah, sekampung, semarga, seagama, atau apapun namanya di luar alasan kepantasan karena kelayakan dan integritasnya yang teruji dan dapat dipercaya.

Selamat Hari Pahlawan 2015

Jakarta, 10 November 2015

*Penulis adalah Pemimpin Redaksi situs NiasSatu.Com

 

About the Author

Leave a Reply

*

Translate »