SEJARAH NIAS

Desa Orahili Fau, Benteng Terakhir Nias Melawan Belanda

Samuel Novelman Wau | Dok. Pribadi

Samuel Novelman Wau | Dok. Pribadi

Oleh Samuel Novelman Wau*

Pendahuluan

Bulan ini, tepatnya 10 November 2016 kita kembali memperingati Hari Pahlawan yang ke-71 tahun. Hari bersejarah ini erat hubungannya dengan perang di Surabaya antara pihak Indonesia dengan Sekutu yang hendak mengembalikan Indonesia  kepada pemerintah penjajah Belanda. Itu berlangsung 27 Oktober – 20 November 1945. Puncaknya adalah 10 November yang memakan korban ribuan jiwa. Itu adalah perang terbesar dan terberat dalam sejarah revolusi Indonesia sehingga menjadi simbol nasional dalam perlawananan terhadap kolonialisme.

Peristiwa ini tidak berdiri sendiri dalam lembaran sejarah perjuangan Indonesia. Sementara anak-anak bangsa ini berjuang di Surabaya, di sudut-sudut lain Nusantara ada juga ribuan pejuang yang mati-matian melawan kekejaman penjajah. Salah satunya adalah di kepulauan Nias.

Penjajahan Belanda Atas Nias

Sejak ratusan tahun yang lalu Nias terkenal dengan hasil alam dan ternak babinya yang begitu melimpah. Nias menjadi eksportir bahan makanan ke Barus dan berbagai tempat. Kekayaan daerah ini menjadi magnet kuat yang mampu menarik para saudagar datang melakukan jual-beli dengan warga lokal. Terlebih posisi geografis Nias yang berada dekat dengan satu jalur perdagangan yang populer disebut sebagai Jalur Sutra, tentu saja semakin membuat Nias menjadi daerah tujuan orang asing.

Bangsa Belanda pun di bawah bendera VOC-nya tidak mau ketinggalan untuk meraup keuntungan dari komoditi yang tersedia di Nias. Keberadaan ribuan budak yang diperjualbelikan di pasar budak ikut mendorong Belanda bergegas menginjakkan kakinya di bumi Nias.

Hanya saja misi kedatangan Belanda ke Pulau Nias sedikit berbeda dengan misi saudagar-saudagar lainnya. Belanda datang tidak hanya untuk berdagang, tetapi lebih dari itu mereka juga ingin menjajah sebagaimana yang mereka lakukan di  banyak tempat. Penjajahan yang dilakukan Belanda tidak terlepas dari kepentingan mengamankan usaha dagangnya. Belanda tidak puas bila hanya menjadi salah satu pemain diantara banyak saudagar lain. Mereka ingin memonopoli secara penuh pasar Nias. Dan satu-satunya jalan untuk mewujudkan itu adalah penjajahan. Warga lokal hendak dipaksa tunduk di bawah todongan senjata militer.

Rencana Belanda untuk memaksakan monopoli dagangnya ke Pulau Nias pernah dua kali  dilakukan yaitu di tahun 1693 dan 1756 namun selalu menemui kegagalan. Barulah pada tahun 1840 dengan adanya Traktat London, Belanda mengambil alih pos Inggris di Gunungsitoli dan secara sepihak mengklaim Nias sebagai daerah kekuasannya.

Walaupun demikian daerah yang mereka kuasai sangat terbatas hanya seluas Gunungsitoli. Selebihnya wilayah lain di Nias khususnya Nias Selatan tidak mampu mereka taklukan. Belanda butuh waktu puluhan tahun dan harus membayar harga yang sangat mahal untuk bisa menaklukan Nias Selatan. Berulang kali mereka mengirim pasukan dalam jumlah besar untuk menundukan wilayah tersebut namun kegigihan perlawanan masyarakat di sana membuat Belanda harus menanggung rasa malu atas kekalahan mereka yang beruntun.

Prajurit Orahili dan Botohosi | Dok. Samuel Novelman Wau

Prajurit Orahili dan Botohosi | Dok. Samuel Novelman Wau

Perlawanan Orahili Fau

Sudah disebutkan bahwa jauh sebelumnya Belanda pernah mencoba menguasai Nias yang berujung kegagalan hingga akhirnya dengan memanfaatkan kekosongan Inggris di Gunungsitoli mereka mendirikan benteng militer di sana yang diperkuat dengan keberadaan detasemen infanteri. Dan dilanjutkan dengan mengorganisir satu pemerintahan sipil yang bernaung di bawah Gouvernement Sumatera Wesiklet – Padang.

Sekalipun Belanda sudah menempatkan kekuatan militernya dan memiliki pemerintahan sipil di Gunungsitoli namun itu tidak berjalan maksimal. Boleh dikatakan bahwa pemerintahan Belanda yang dijalankan di dalam benteng tidak lebih dari macan ompong yang hanya bisa mengaum dari dalam kandang. Mereka boleh saja mengaku sebagai penguasa Nias namun tidak diakui dan tidak berpengaruh kepada orang banyak di luar benteng – ga ngefek. Penyebab mandulnya kekuasaan Belanda ini ada di Nias Selatan, tepatnya di Orahili Fau, banua raja Lahelu’u Fau yang secara administratif kini dikenal sebagai Desa Orahili Fau di Kecamatan Fanayama, Kabupaten Nias Selatan.

Upaya-upaya Belanda untuk memperluas daerah kekuasaannya di seluruh daratan Nias tidak dapat berjalan mulus karena selalu mendapat perlawanan dari Nias Selatan dan Orahli Fau. Banua ini konsisten menjadi oposisi terhadap penjajah Belanda. Di saat banua-banua lain dipaksa tunduk atau terpaksa tunduk kepada Belanda karena ada kepentingan sesaat, Orahili Fau teguh pada pendiriannya sebagai rival sejati kompeni Belanda.

Orahili Fau berdiri kokoh bagai benteng terakhir dalam perjuangan suku Nias melawan Belanda. Tidak pernah sekalipun daerah ini mau diajak kompromi. Utusan pemerintah Belanda yang mengunjungi Nias Selatan disambut dengan tebasan pedang dan lemparan tombak yang membuat mereka lari kembali masuk ke dalam sarangnya di Gunungsitoli. Berbagai aturan yang dibuat untuk mendikte para si’ulu Nias Selatan dijawab dengan pemberontakan demi pemberontakan. Itulah situasi yang dihadapi Belanda. Singkatnya selama Orahili Fau dan sekutu-sekutunya di Nias Selatan eksis Belanda tidak akan pernah benar-benar menjajah Nias.

Tantangan yang dihadapi Belanda memang cukup berat namun kekayaan Nias membuat mereka tidak pernah putuh asa untuk mencoba dan mencoba terus masuk ke Selatan. Setidaknya empat kali mereka melakukan ekspedisi militer ke Nias Selatan hanya untuk menaklukan Orahili Fau. Bantuan militer dari luar Nias pun didatangkan. Lalu pada tahun 1863 dengan memanfaatkan permusuhan antar banua di Nias Selatan, militer Belanda dan sekutu lokalnya datang dengan kekuatan penuh menyerang Orahili Fau. Dalam ekspedisi terakhir itu pasukan Orahili Fau sempat tiga kali memukul mundur musuh, namun saat bentrokan keempat daerah kekuasaan Lahelu’u ini jatuh. Warganya mengungsi dan kemudian mendirikan banua baru yang jauh lebih kuat yakni Bawömataluo. Itu terjadi pada awal Juni 1863.

Pembuktian Orahili Fau sebagai Benteng Terakhir

Gunungsitoli telah dikuasai, sebagian besar wilayah di kepulauan Nias sudah dijinakan menjadi sekutunya penjajah, lalu apa yang membuat mereka masih mau mengincar Orahili Fau? Kenapa Belanda begitu bernafsu ke sana dan rela membayar harga yang sangat mahal untuk memenuhi ambisinya itu? Kalau Orahili Fau memang tidak mau bekerjasama sebagaimana banua lainnya bukankah lebih baik membiarkannya sendirian terisolasi?

Masalahnya tidak sesederhana itu. 150 tahun yang lalu Orahili Fau adalah daerah berpengaruh di Nias Selatan (kalau bukan di seluruh kepulauan Nias). Ia punya kekuatan besar untuk membungkam penjajahan Belanda atas Nias. Dalam beberapa konfrontasi Belanda telah merasakan bagaimana getirnya pukulan Orahili Fau. Bersama Lahelu’u, Orahili Fau berhasil mempecundangi pasukan Belanda dan mengusir mereka keluar dari Nias Selatan.

Kenyataan pahit ini membuat orang Belanda sendiri menjuluki Lahelu’u sebagai De Verdrijver der Hollanders (pengusir orang-orang Belanda).  Puluhan tahun bercokol di Gunungsitoli dan sukses menaklukan banyak banua di seantero Nias seolah semuanya itu tidak berarti selama benteng terakhirnya Nias masih kokoh berdiri. Karena itu bagi Belanda, Orahili Fau wajib untuk ditaklukan.

Kenyataan bahwa Orahili Fau mempunyai posisi penting sebagai benteng terakhir dalam perlawanan suku Nias terhadap penjajahan Belanda nampak dari jalannya pemerintahan sipil Belanda. Dalam ulasan tentang Sejarah Kabupaten Nias (http://niaskab.go.id/sejarah-kabupaten-nias/)  dijelaskan bahwa mulai tahun 1864 secara efektif pemerintahan Hindia Belanda mengatur pemerintahan di Nias sebagai bagian daerah wilayah Hindia Belanda.

Tulisan itu cukup menarik namun sayangnya tidak menjelaskan kenapa bisa demikian. Bukankah Belanda sudah mencaplok Nias sejak tahun 1840 lalu kenapa pemerintahan sipilnya baru benar-benar efektif tahun 1864?  Apa masalahnya? Pastinya itu tidak dapat dilepaskan dari penaklukan Orahili Fau tahun 1863.  Setelah berhasil meruntuhkan benteng terakhir Nias, Belanda baru bisa leluasa menjalankan pemerintahannya. Itupun masih membutuhkan waktu konsolidasi kekuasaan selama satu tahun penuh karena dalam berbagai kesempatan sisa-sisa pasukan Orahili Fau tanpa kenal lelah masih melakukan berbagai serangan sporadis yang mengganggu Belanda.

Tahun 1864 menjadi tahun efektifnya Belanda menjajah Nias. Catatan ini penting untuk menjadi perhatian bahwa Belanda butuh waktu 171 tahun (1693-1864) untuk bisa benar-benar menguasai Nias. Dan Belanda menjajah Nias 81 tahun (1864-1945), bukan 350 tahun sebagaimana anggapan selama ini.

Penutup

Memang Orahili Fau sudah takluk, benteng terakhir Nias sudah dihancurkan dan Belanda sudah berhasil menjajah Nias selama 81 tahun namun sejarah ini memberikan satu pelajaran penting bagi kita tentang keteguhan leluhur Nias yang tidak mudah tunduk apalagi secara sukarela menjadi tumpuan kaki penjajah. Patriotisme yang dipertontonkan oleh pasukan Nias dalam melawan hegemoni Belanda kiranya menjadi pelajaran bagi kita untuk lebih mencintai bangsa ini khususnya daerah kita Nias.

Catatan:

  • Nias Selatan yang dimaksud pada artikel di atas adalah wilayah Kecamatan Teluk Dalam dan sekitarnya ketika Pulau Nias masih berstatus satu kabupaten, yakni Kabupaten Nias, dan bukan seluruh wilayah administratif Kabupaten Nias Selatan saat ini. Kecamatan Teluk Dalam sendiri telah dipecah menjadi beberapa kecamatan setelah Kabupaten Nias Selatan.

 

*Penulis adalah pemerhati masalah sosial dan budaya Nias.

About the Author

Leave a Reply

*

Translate »