THEOCENTRIC LEADERSHIP SERIES

The Power of Vulnerability (Kerentanan Seorang Pemimpin)

Eloy Zalukhu | Dok. Pribadi

Eloy Zalukhu | Dok. Pribadi

Oleh Eloy Zalukhu, MBA.

Catatan Redaksi:

Ini adalah artikel kesembilan dari sembilan artikel penting tentang kepemimpinan yang ditulis oleh putra Nias yang juga dikenal sebagai Theocentric Motivator, Eloy Zalukhu. Artikel ini, seperti disebutkan Eloy kepada Redaksi, pernah dimuat di Majalah Inspirasi dan saat ini sedang dalam persiapan untuk dijadikan buku. Sebelum menjadi buku, Eloy membagikan artikel ini kepada warga Nias (tentu saja juga termasuk siapa saja pengunjung situs ini). Semoga menjadi bahan pemikiran dan mengubahkan. Selamat menikmati.

=======

Pemahaman umum tentang pemimpin adalah seorang yang kuat dan bijak. Bahkan ada sebagian orang yang melihatnya sebagai superman atau superwoman, jauh lebih hebat dibanding manusia rata-rata. Hal ini membuat para pemimpin terjerumus dalam kepura-puraan atau pencitraan palsu.

Pemimpin tergoda untuk cepat berkompromi dan bila mereka belum mengenal diri dengan baik, begitu mudah untuk menjadi diri orang lain demi melayani harapan dan imajinasi liar masyarakat luas. Lucunya, masyarakat luas itu pun sering tidak tahu apa yang mereka harapkan, karena sedang tersesat sendiri dalam harapan dan imajinasi tak berdasar.

Terlebih lagi dengan budaya persaingan yang semakin hari semakin sengit. Entah Anda pemimpin dalam bidang bisnis, politik bahkan hingga institusi keagamaan, roh (spirit) persaingan untuk menjadi yang terbaik terus membuntuti. Karena itu, kita tidak berani mengakui kerentanan atau kekurangan diri bahkan berusaha menyembunyikan kerentanan itu dibawah kolong. Akibatnya fatal, ketika datang suatu pemicu, kerentanan tadi menjatuhkan sang pemimpin. Jatuh keras, berkeping-keping, tak ada yang tersisa.

Apa Itu Vulnerability?

Rentan tidak berarti Anda berjalan keliling sambil menangis dengan memegang sekotak tisu lalu mengumbar rahasia pribadi Anda kepada semua orang. Itu namanya bukan rentan tapi mencari perhatian.

Jadi, kerentanan seorang pemimpin berarti siap untuk meninggalkan kepura-puraan, dan menjadi dirinya yang sesungguhnya. Seorang pemimpin yang rentan berarti nyaman dengan kenyataan bahwa dia tidak memiliki semua jawaban. Karena itu, dia bersedia mendengar, mempertimbangkan hingga menerima ide-ide orang lain.

Kerentanan pemimpin juga membantu untuk tidak tergoda menonjolkan diri. Kerentanan pemimpin membuat Anda bersedia melihat kekuatan anggota tim dan mendorong mereka untuk terlibat secara maksimal dalam setiap pekerjaan. Ketika Anda memutuskan untuk menunjukkan kerentanan, anggota tim akan merasa terhubung, diberdayakan dan dianggap penting oleh perusahaan.

Dalam bahasa Indonesia vulnerable berarti rentan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, rentan berarti mudah terkena penyakit. Tidak heran jika hampir semua orang berpikir bahwa menjadi rentan adalah hal yang buruk karena itu berarti lemah atau tak berdaya.

Namun, itu adalah pandangan yang kurang tepat. Justru sebaliknya, seperti disimpulkan oleh Rev. Rick Warren bahwa vulnerability is a forgotten virtue of great leadership. Artinya, kerentanan adalah kebajikan yang hilang atau terlupakan dari kepemimpinan. Berikut tiga alasan mengapa kerentanan penting dalam hidup seorang pemimpin.

  • Benar secara spiritual

Kitab Suci mencatat bahwa “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati” (Yakobus 4: 6). Tidak mungkin untuk memimpin secara efektif tanpa kasih karunia Allah. Lalu bagaimana seorang pemimpin memperoleh kasih karunia yang dibutuhkan? Tentu dimulai dari kerendahan hati di hadapan Allah dan sesama. Ingat, kesombongan adalah awal dari kejatuhan.

  • Sehat secara emosional

Membangun dan mempertahankan citra-diri sebagai pribadi yang kuat dan serba hebat adalah perjuangan yang sangat melelahkan. Berusaha menyenangkan dan mengesankan semua orang merupakan sumber tekanan dan stress terbesar. Lagi pula usaha ini umumnya tidak bertahan lama. Kerentanan selalu ada peluang untuk keluar dan menari dihadapan banyak orang.

  • Tepat secara relasional

Setiap orang memakai topeng dan kita meyakini bahwa setiap pemimpin pun demikian. Karena itu, ketika seorang pemimpin membuang topeng dan tampil alami atau tanpa kepura-puraan, banyak orang yang terkejut secara positif. Mengapa? Karena kita cenderung menyukai orang-orang yang tampil apa adanya, sederhana, jujur, rendah hati, termasuk dalam kerentanannya. Sebaliknya kita cenderung memandang rendah orang-orang yang curang, sombong, dan munafik.

Senada dengan itu, Brene Brown, research professor at University of Houston Graduate College of Social Work, melakukan penelitian dalam bidang vulnerability dan menyimpulkan bagaimana sebagian orang terlihat mudah dalam memulai dan membangun hubungan baik dengan orang lain. Jawabannya adalah keberanian untuk tampil tidak sempurna, menerima dan menghargai diri sendiri sehingga berani tampil alami dan apa adanya.

Seseorang yang bersedia mengakui kerentanannya adalah tanda kebesaran jiwa seorang pemimpin. Mengakui kerentanan adalah awal dari komunikasi yang terbuka, bebas dari perasaan takut dihakimi. Inilah yang kemudian menjadi dasar dari hubungan saling percaya dalam menghasilkan kinerja terbaik. Betul kesimpulan Jim Haudan dan Katharine Lind bahwa “Tindakan paling berani dari seorang pemimpin adalah menjadi diri apa adanya.”

Howard Schultz, CEO Starbucks, pernah berkata, “Hal yang paling sulit tentang menjadi seorang pemimpin adalah menunjukkan atau menampilkan kerentanan. Ketika pemimpin menunjukkan kerentanan, disertai dengan kepekaan hingga berhasil membuat orang-orang bekerja bersama maka tim tersebut akan meraih kemenangan.”

Kesimpulan

Seorang pemimpin jauh dari sempurna, dia bukan malaikat, hanya manusia biasa yang rentan dengan berbagai kekurangan. Orang-orang yang menyatakan diri sebagai pengikut seorang pemimpin harus sadar dan rela menerima kenyataan ini agar pemimpin berani menjadi diri terbaiknya, tanpa perlu menjadi diri orang lain.

Merujuk kepada definisi kepemimpinan menurut Theocentric, yaitu “Respon terhadap panggilan Tuhan untuk memperbaharui sesuatu dengan cara menginspirasi, mengajak, mempengaruhi, memperlengkapi dan mengarahkan orang-orang dalam mewujudkan suatu visi yang diyakini bersama untuk dilakukan secara terencana, penuh gairah dan keberanian.”

Ini artinya, karena kepemimpinan yang sejati adalah tentang manusia yang tidak sempurna atau bahkan cenderung rentan tadi, ternyata Tuhan panggil untuk mengubah sesuatu menjadi lebih baik. Dan ajaibnya pribadi yang rentan tadi itu, tergerak untuk meresponi panggilan Tuhan dan kemudian dia berusaha mengubahkan sesuatu menjadi lebih baik.

Kesadaran akan kerentanan ini menolong sang pemimpin yang meresponi panggilan Tuhan tadi, tidak jatuh dalam kesombongan. Karena sambil berusaha memberikan hasil 10x lebih baik, dia sadar bahwa kalau dia berhasil, itu bukan semata karena kehebatannya tapi anugerah Tuhan yg pertama memanggil sekaligus memperlengkapi dia, ketika dia sangat tidak layak di dalam kerentanannya.

Berhubungan dengan itu, Rasul Paulus pernah menulis “Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami.” (2 Kor. 4:7).

Ini artinya, sebagai manusia kita memiliki kerentanan. Kita terbatas. Kita bahkan bisa berbuat salah dan dosa. Termasuk sebagai pemimpin. Menerima bahwa kita adalah “bejana tanah liat” berarti mengakui bahwa kekuatan bukan dalam diri kita melainkan dalam diri Allah.

Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.(2 Kor 12:9).

Mari memimpin secara alami atau terbuka apa adanya. Di dalam diri setiap kita Tuhan berikan benih untuk menjadi pemimpin kebanggaan keluarga, organisasi dan bangsa. Tampil sebagaimana adanya, tanpa kepalusan.

* Eloy Zalukhu, MBA adalah Director of CAPSTONE Consulting & Sales Institute; Theocentric Motivator, Sales Training Expert; Leadership Coach and Corporate Culture Consultant; Penulis buku best-seller Life Success Triangle & Sales Warrior using RAVE Sales Principles. dan Narasumber tetap program Smart Motivation di radio SmartFM dan Sonora networks.

 

About the Author

Leave a Reply

*

Translate »