So Bewe Hare-Hare Hiliamaetaniha, Monumen Sarogamuri

Samuel Novelman Wau | Dok. Pribadi

Oleh Samuel Novelman Wau*

Pendahuluan

Data yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Nias Selatan Tahun 2015 menerangkan, bahwa di kabupaten yang juga disebut Tanö Raya ini terdapat 459 desa. Dalam istilah lokal desa disebut sebagai banua. Satu istilah penting yang menegaskan kedaulatannya bak satu kerajaan di masa lalu – jelas tidak sama maknanya dengan desa di masa sekarang. Dari sekian ratus desa yang ada tinggal beberapa saja banua yang masih layak disebut sebagai desa adat, salah satunya adalah Hili’amaetaniha.

Desa atau banua yang masuk kategori desa adat setidaknya memiliki unsur-unsur warisan masa lalu berupa bawagöli (pintu gerbang), iri newali (halaman desa), bale (balai desa), hombo batu (lompat batu), batu fa’ulu (batu-batu megalit), hele (pancuran), dan tentu saja omo niha (rumah adat).

Profil Hiliamaetaniha

Saat ini banua Hili’amaetaniha secara administrasi terbagi 2, yaitu desa Sondege’asi dan desa adat Hili’amaetaniha yang sekaligus diakui sebagai desa induk. Konteks tulisan ini adalah desa adat Hili’amaetaniha.

Hili’amaetaniha memiliki sejarah panjang dan garis lurus hingga Gomo, banua yang diyakini sebagai tempat asal leluhur suku Nias. Hubungannya demikian: leluhur Hili’amaetaniha pindah dari Gomo menuju Lahusa Fau. Dari sana mereka beranjak ke Orahili Fau. Di Orahili Fau terjadi perebutan tahta kekuasaan di antara anak-anak si’ulu. Garis nasib menempatkan si bungsu keluar sebagai pemenang, terpilih menjadi suksesor yang segera menggantikan ayah mereka menjadi raja (balö ji’ulu). Hal ini tidak diterima oleh saudara-saudaranya sehingga satu persatu mereka meninggalkan Orahili Fau dan membuka banua baru diantaranya Bawöwasöma, Hililuo, Hilimbatuomo dan Hilizamofo. Kemudian dalam konfrontasi dengan pasukan ekspedisi Belanda tahun 1847 Hilizamofo dibumihanguskan beserta banua-banua sekitarnya. Warganya mengungsi ke Orahili Fau banua asal mereka.

Bencana tersebut tidak membuat Hilizamofo patah arang. Dari pengungsian mereka mengadakan konsolidasi (orahu) dengan Hidohöna dan Hilifatuwu, dua banua klan Fau yang juga menjadi korban ekspedisi Belanda. Atas dasar pemikiran memiliki nasib yang sama dan berasal dari klan yang sama pula maka para si’ulu Hilizamofo mengajak kedua sekutunya membangun kembali Hilizamofo dan melebur menjadi satu banua. Di luar dugaan tawaran itu ditolak mentah-mentah oleh si’ulu Hilidohöna. Sebagai jalan tengah akhirnya ketiganya sepakat melebur jadi satu banua dan membangun pemukiman di lahan baru. Itulah Hilizondegeasi.

Puluhan tahun kemudian Hilizondege’asi mengalami lagi masalah internal yang berujung pada perpecahan dan terbakarnya pemukiman itu. Pasca kebakaran sebagian kecil memilih eksodus lalu mendirikan banua baru yaitu Botohilitanö. Selebihnya memilih tetap bertahan di lokasi yang sama untuk membangun kembali puing-puingnya lalu menamakannya Hili’amaetaniha.

Sebenarnya konteks tulisan ini adalah Hilizondege’asi hanya saja karena Hili’amaetaniha (sekarang) berada di lokasi yang sama dan merupakan pewaris Hilizondege’asi (dulu) maka penulis memilih nama yang sekarang. Hal ini perlu juga untuk menghindari kesalahan persepsi mengingat ada desa baru yang mengadopsi nama Hilizondege’asi yaitu desa Sondege’asi.

Penting untuk diketahui rentetan peristiwa di atas mulai dari Gomo hingga berdirinya Hilizondege’asi tidak terjadi dalam ‘satu hari’. Belasan generasi telah melalui semuanya itu.

Monumen Sarogamuri

Sobewe Hare-Hare | Novelman Wau

Sejarah memberitahu kepada kita satu fakta yang menarik, yaitu karya-karya besar yang pernah dihasilkan oleh anak-anak manusia merupakan warisan mereka yang pernah berkuasa. Kekuasaan memberi mereka kesempatan untuk melakukan banyak hal yang tidak mungkin dilakukan masyarakat biasa. Atau sebaliknya karya besar menjadi tiket yang membawa mereka naik ke tampuk kekuasaan.

Fakta ini berlaku juga di daratan Kepulauan Nias, khususnya saat para si’ulu masih memerintah. Para si’ulu menempati strata masyarakat atas. Mereka berada dalam lingkaran kekuasaan. Kekuasaan secara alami menjadi sesuatu yang melekat dalam diri mereka. Status ini tidak bisa dibeli apalagi dihadiahkan. Ini adalah warisan turun-temurun. Orang yang lahir dari ayah-ibu si’ulu otomatis ia adalah si’ulu. Seseorang pernah berkata moroi ba dalu inagu ha si’ulu ndrao (sudah sejak dalam kandungan ibuku saya menjadi si’ulu).

Sekalipun para si’ulu sudah berada dalam lingkaran kekuasaan namun kaum prianya senantiasa berkompetisi untuk mencapai puncak kekuasaan dan dinobatkan menjadi balö ji’ulu (raja) yang tentu saja memiliki banyak keistimewaan dibanding rekan-rekannya yang lain. Untuk sampai ke sana mereka harus menyelenggarakan sekian banyak pesta adat (faulu).

Sejalan dengan itu sejak awal mereka juga harus bisa ‘berinvestasi’ yaitu menggerakan massa serta membiayai pembangunan berbagai fasilitas umum, misalnya manela ewali (membatui halaman desa), mamokai ndrölö sibohou (membuka lorong pemukiman baru) dan mamasindro bawa göli (membangun pintu gerbang). Setelah sampai puncak kekuasaan pun mereka masih saja sibuk melakukan pekerjaan-pekerjaan besar yang akan dikenang oleh generasi kemudian. Semuanya itu didedikasikan untuk kepentingan umum (mbanua) dan dengan sendirinya menjadi monumen mereka.

Di Hilizondege’asi (sekarang Hili’amaetaniha), seorang si’ulu bernama Sarogamuri pernah memobilisasi warganya membangun satu monumen yang masih ada sampai hari ini. Monumen dimaksud adalah so bewe hare-hare yang memanjang dari selatan (raya) ke utara (löu) sejajar deretan rumah warga. Ini semacam trotoar yang terbuat dari batu alam dan dibangun lebih tinggi dari halaman rumah/desa (ewali). Sesuatu yang unik dan satu-satunya di Kepulauan Nias.

So bewe hare-hare berasal dari tiga kata yaitu so, bewe dan hare/hare-hare. So adalah awalan yang artinya bagai/seperti. Sedangkan bewe artinya bibir, tepi atau pinggir. Dan hare atau hare-hare (jamak) adalah tempat yang posisinya berada lebih tinggi dari tempat lainnya. Jadi terjemahan bebas dari so bewe hare-hare adalah tempat yang menyerupai hare-hare. Hanya saja kalau hare-hare terbuat dari material kayu dan terdapat di dalam rumah maka so bewe hare-hare terbuat dari batu alam dan terdapat di luar, tepatnya di depan rumah sebelum halaman desa – memisahkan properti pribadi warga dengan ruang publik (ewali/halaman).

So bewe hare-hare memiliki nilai estetika tersendiri yang ikut memperindah Hilizondegeasi lama dengan 71 unit omo nitörö arö-nya (rumah ukuran besar dan untuk naik ke atas harus lewat kolong) – keindahan pemukiman ini pernah dipuji oleh Elio Modigliani petualang Italia yang pernah singgah di sana pada 1887.

Dari penuturan lisan terungkap bahwa ada dua faktor utama yang mendorong Sarogamuri membangun fasilitas ini.

Pertama sebagai konsenkuensi dari statusnya. Menjadi si’ulu adalah masalah kelahiran tetapi menjadi pemimpin yang mengayomi orang banyak adalah masalah kemampuan. Itulah sebabnya ada istilah si’ulu sondorogö (pengayom). Membuka lahan pemukiman, memulai pendirian banua (dari sini muncul istilah samatua hili yaitu si pendiri), membangun berbagai fasilitas umum dan mengerahkan massa untuk melakukan gotong royong rutin merupakan domainnya kaum si’ulu. Merekalah yang selalu memulai dan sekaligus membiayai seluruh kebutuhan yang diperlukan demi kesejahteraan rakyat. Jadi tidaklah berlebihan bila dikatakan tidak ada satupun banua di Kepulauan Nias tanpa jejak si’ulu di sana.

Kembali kepada Sarogamuri. Ketika Hilizondege’asi sudah selesai dibangun lengkap dengan semua fasilitas umumnya sebagaimana yang ada di banua-banua lain, Sarogamuri kehabisan peluang untuk menyumbangkan sesuatu di sana. Kalaupun ada, tentu itu bukan lagi kebutuhan mendasar masyarakat (fabanuasa). Sepertinya ia akan kesulitan membuktikan dirinya sebagai si’ulu sondorogö. Menjawab kebuntuan itu beliau mencetuskan pembangunan so bewe hare-hare, sesuatu yang belum pernah ada di banua manapun. Dan akhirnya properti ini menjadi nilai tambah yang ikut mengangkat kehormatan Hilizondege’asi.

Faktor kedua adalah masalah harga diri dan identitas. Untuk diketahui keluarga Sarogamuri sebelumnya berasal dari Hilidohöna yang dibakar Belanda bersama Hilizamofo dan Hilifatuwu. Dibandingkan dengan kedua sekutunya, banua asal keluarga Sarogamuri relatif jauh lebih kecil, baik dalam hal ukuran maupun pengaruh – juga jumlah penduduknya hanya 7 kepala keluarga. Dengan demikian mereka tercatat sebagai minoritas di Hilizondege’asi. Posisi ini terbuka pada kemungkinan menjadi warga kelas dua yang diremehkan.

Menjaga hal itu tidak sampai terjadi maka Sarogamuri bertekad mencari cara bagaimana supaya ia dan warga Hilidohöna memiliki kesetaraan dengan warga lain asal Hilizamofo dan Hilifatuwu. Sarogamuri ingin memastikan mereka diakui sebagai bagian sah dari Hilizondege’asi bukan yang dicangkokkan atau yang menumpang hidup di sana. Jawaban atas semuanya itu adalah so bewe hare-hare. Itulah persembahan Sarogamuri di Hilizondege’asi yang masih ada sampai hari ini. Sibari, putri Sarogamuri sering menuturkan kepada anak-cucunya demikian, “Lahe ja’a namagu ni fo bewe hare-hare ba (hili)Zondegeasi.” Artinya jejak kuku ayahku yang seperti hare-hare di Hilizondege’asi.

Mengerjakan proyek itu tidaklah gratis. Tenaga massa dikerahkan dan seluruh biaya pembangunan ditanggung seorang diri oleh Sarogamuri. Ratusan ekor babi dan sejmlah emasnya diberikan sebagai biaya pembangungan. Tingkat kesulitan pekerjaan pun bisa dibayangkan cukup besar. Kenapa? Properti dimaksud untuk layak disebut sebagai so bewe  hare-hare maka posisinya wajib lebih tinggi dari halaman desa (ewali). Jadi bisa dipastikan sebelum itu dibangun tenaga kerja harus membongkar kembali batu-batu halaman desa yang sudah tersusun, menggalinya sekian puluh centimeter lalu membatuinya kembali. Setelah jadi barulah so bewe hare-hare dibangun yang mana posisinya sejajar dengan dasar rumah warga dan lebih tinggi dari halaman desa.

Penutup

Sarogamuri telah meninggalkan satu monumen yang menjadi kekayaan budaya megalitikum desa adat Hili’amaetaniha. Bukan untuk dirinya seorang atau keturunannya tetapi telah menjadi milik publik. Sarogamuri telah melakukan bagiannya, kini giliran generasi baru Hili’amaetaniha untuk memelihara monumen yang sudah mulai terbengkalai itu dan sebagian diganti dengan material dari semen.

Sehubungan dengan itu kita percaya di seantero Kepulauan Nias masih banyak monumen warisan leluhur di masa lalu. Adalah tanggungjawab kita menggalinya bukan saja fisiknya tetapi nilai-nilai hidup yang tersimpan di dalamnya. Leluhur suku Nias tidak pernah membangun monumen tanpa ada pesan di baliknya. Mari menggali.

 *Penulis adalah pemerhati masalah sosial dan budaya Nias.

 

Catatan redaksi:

Karena ada masalah teknis, foto so bewe hare-hare yang dimaksud dalam artikel ini belum bisa ditampilkan. Kami sedang berupaya mengatasinya dan berharap segera bisa ditampilkan.

 

 

About the Author
  1. Famachoi Wa'u Reply

    Jempol lagi buat tulisan ini. Lanjutkan, Samuel Novelman!

Leave a Reply

*

Translate »