Jari Politik

Etis Nehe | Dok. Pribadi

Etis Nehe

Tak lama lagi, dalam hitungan jari (maksudnya, hari. Bacanya pakai gaya membaca huruf “j” dalam bahasa Spanyol 😀), semua yang punya jari tak akan leluasa menggunakan jarinya.

Sebagaimana biasa pada setiap laga politik, selain tampang yang dipoles habis agar menarik perhatian, yang selalu jadi pusat perhatian adalah jari.

KPU akan mengumumkan nomor urut para calon kepala daerah. Tetapi, meski nomor urutnya dalam bentuk angka-angka, namun dalam praktiknya penggunaan jari sebagai ganti angka jauh lebih dominan.

Setelah pengumuman, maka mulai dari pasangan calon kepala daerah, pendukung maupun bukan pendukung akan dinilai atau dibedakan berdasarkan cara menampilkan jarinya.

Untuk nomor urut 1 biasanya akan menggunakan jari telunjuk. Bila tidak, akan menggunakan jari jempol. Tetapi tidak akan berani menggunakan jari tengah, manis dan kelingking. Satu jari atau jari telunjuk akan diasosiasikan dengan keutamaan, keunggulan dan tentu saja, kemenangan.

Untuk pasangan nomor 2, biasanya hanya menggunakan kombinasi jari telunjuk dan tengah. Keduanya juga membentuk formasi V sebagai inisial untuk victory (kemenangan).

Untuk pasangan nomor 3, penggunaan jari memang rada kurang praktis seperti untuk nomor 2 dan 3. Biasanya menggunakan jari telunjuk, tengah dan manis. Kadang ada yang menggunakan kombinasi jari tengah, manis dan kelingking. Tetapi, kalau formasi itu dilakukan, biasanya jari telunjuk dan jempol akan membentuk kombinasi huruf “o” atau angka nol, yang akan mudah diasosiasikan dengan kekosongan atau kekalahan. Tetapi nomor urut ini tertolong dengan simbol metal “tiga jari” dengan kombinasi jempol, telunjuk dan jari kelingking. Jari tengah dan manis dalam posisi mengatup ke telapak tangan.

Untuk nomor urut 4 dan 5, tak usah diulas. Kalaupun ada, jarang ada sampai 4 atau lima pasangan berlaga di politik, khususnya Pilkada. Kalau ada, silakan pikir sendiri ya.

Intinya begini.

Dalam musim politik, Anda akan dinilai, dipuji, dihakimi berdasarkan formasi jari Anda. Bahkan, lebih dari itu, Anda bisa menjadi sasaran kekerasan hanya karena formasi jari Anda yang tidak tepat waktu, tepat momen dan tepat tempat.

Penggunaan jari akan menjadi sumber marabahaya. Bahkan, bila ada satu pasangan menggunakan jarinya dalam formasi yang natural, itu bisa jadi masalah. Penggunaan jari secara salah akan menyebabkan olokan hingga pemelintiran dan tudingan bahwa pasangan yang satu justru mendukung pasangan lainnya.

Anda akan melihat, ketika menunjuk, pasangan nomor 2 dan seterusnya tak akan menggunakan telunjuk sebagai simbol bagi nomor 1. Tetapi akan menggunakan kombinasi dua atau tiga jari untuk menunjuk.

Hal serupa juga akan terjadi pada penggunaan angka-angka.

Politik jari. Jari politik. Politisasi jari. Apapun namanya, intinya sama.

Berbahayanya penggunaan jari pada laga politik, senada dengan penggunaan jari setiap hari. Salah satu sumber banyak kesusahan di dunia akhir-akhir ini, khususnya di Indonesia, terkait dengan penggunaan jari di layar HP dan perangkat telekomunikasi lainnya.

“Jarimu harimaumu”. Itu jargon baru yang lebih berbahaya daripada “Mulutmu harimaumu”. Apa yang Anda tulis, apa yang Anda sebar bisa membuat dampak merusak yang dahsyat bagi orang lain dan pada diri sendiri.

Saat ini ada kecenderungan bahwa otak tak lagi memerintah jari. Tetapi, sebaliknya, jari yang memerintah otak. Itu sebab, jangan kaget di internet, melalui aplikasi-aplikasi media sosial, akan sering menemukan tulisan dan gambar yang menunjukkan bahwa pemuatnya tidak punya/pakai otaknya. Cuma punya jari.

Mereka dengan enteng menggunakan jari mereka untuk mengklik “share/bagikan”, “forward/teruskan” atau “copy-paste/salin tempel” di perangkat telekomunimasi mereka. Tak peduli apakah itu info hoax, pelintiran, kebencian langsung disebar ulang. Tidak peduli apakah info itu menghina, melecehkan, memprovokasi kekerasan, merusak keharmonisan kehidupan sosial. Sebar saja. Cukup beri keterangan bahwa info itu “dari sebelah”.

Mereka seumpama orang yang melewati kebun sayur seperti menerobos ilalang. “Ifanörö talu gowi ndru’u” istilahnya dalam bahasa Nias.

Tahun ini dan tahun depan adalah tahun politik. Tahun dimana penyalahgunaan jari akan berlangsung lebih lama dan tentu saja lebih massif dari biasanya.

Tidak peduli Anda mendukung dan memilih siapa, semuanya akan bangkit dan hancur ditentukan oleh penggunaan yang bertanggungjawab secara bersama-sama antara hati, otak, akal sehat, kebijaksanan, jari dan perangkat telekomunikasi Anda.

Ingat, otak ada di kepala. Bukan di jari.

Berikan kesempatan kepada hati, otak, akal sehat dan kebijaksanaan memimpin jari Anda.

Selamat ber-jari ria. Hidup jari…!!!

Catatan: Artikel ini ditulis pada Sabtu, 13 Januari 2018 dan diposting di FB Penulis yang bisa diakses di sini: https://web.facebook.com/notes/etis-nehe/jari-politik/10155352356164211/

*) Pemerhati isu-isu sosial politik. Doyan cuap meski masih amatiran. Cuap, bukan hoax!

 

 

About the Author

Leave a Reply

*

Translate »