PENDIDIKAN

13 Putra-Putri Nias Diterima di SMK Bagimu Negeriku Semarang Dengan Beasiswa Penuh

Senta Leo, 13 Putra/i Nias dan orang tua/kerabat mereka yang mengantar di Bandara Binaka. Bagi 13 anak itu adalah perjalanan pertama mereka keluar Nias dan menikmati penerbangan | Dok Senta Leo

NIASSATU, SEMARANG – 13 putra-putri Nias dari latarbelakang keluarga tidak mampu mendapatkan kesempatan melanjutkan pendidikan mereka di SMK Bagimu Negeriku di Semarang. Mereka mendapatkan beasiswa penuh untuk menempuh pendidikan selama tiga tahun di salah satu SMK terbaik di Indonesia itu.

Ke-13 anak tersebut terpilih melalui seleksi oleh SMK Bagimu Negeriku  yang difasilitasi oleh Senta Leo, pimpinan Yayasan Abdi Pusaka Indonesia (API) yang mengelola Promiseland, sebuah lembaga pelayanan dan pendidikan untuk membantu anak-anak Nias di Kecamatan Gidö, Kabupaten Nias.

Mereka terdiri dari lima anak perempuan dan delapan anak laki-laki. Mereka di antar langsung oleh Senta ke Semarang hingga diserahterimakan kepada pihak sekolah. 

“Puji syukur, kemarin (10 Juli 2019) kami tiba di Semarang setelah penerbangan panjang dari Nias transit di Bandara Soekarno-Hatta,” ujar Senta kepada Nias Satu, Rabu, 11 Juli 2019.

Dari bandara Semarang, Senta dan ke-13 anak tersebut dijemput oleh bus milik SMK Bagimu Negeriku. Lalu, dibawa ke sekolah untuk menyelesaikan pemberkasan. Selanjutnya, mereka masuk ke asrama yang letaknya di sekitar sekolah. Di sekolah itu mereka akan belajar tersebar pada jurusan yang tersedia, yakni Multimedia, Rekayasa Perangkat Lunak, Teknik Kendaraan Ringan dan Otomotif, Bisnis Konstruksi dan Tata Boga.

Seleksi

Senta menjelaskan, total peserta seleksi sebanyak 23 orang. Mereka berasal dari Kabupaten Nias Selatan, Kabupaten Nias, Kabupaten Nias Barat dan Kota Gunungsitoli.

“Namun yang lulus seleksi sebanyak 13 anak. Meski begitu, jumlah itu tetap yang paling banyak diterima masuk SMK Bagimu Negeriku dibanding dari daerah lain. Dari 120 orang siswa-siswi yang diterima pada tahun ini, terbanyak diterima dari Pulau Nias,” ujar dia.

Mereka adalah:

  1. Selamat Putra Zebua dari Desa Bakharu, Kecamatan Gidö, Kabupaten Nias
  2. Berkat Eli Laoli dari Desa Soewe, Kecamatan Gidö, Kabupaten Nias
  3. Arismunanda Suryanto Ndruru, dari Desa Sitolubanua, Kecamatan Lahusa, Kabupaten Nias Selatan.
  4. Opida Taföna’ö dari Desa Lawa-Lawa Luo, Kecamatan Gomo, Kabupaten Nias Selatan.
  5. Ester Silvana Ndraha dari Desa Hiliweto, Kecamatan Gidö, Kabupaten Nias.
  6. Septi Andriani Halawan dari Desa Hilizoi, Kabupaten Nias.
  7. Lusia Lastri Anjelica Ndraha dari Desa Hiliweto,Kecamatan Gidö, Kabupaten Nias.
  8. Jonfianus Zandroto dari Desa Hiliweto, Kecamatan Gidö, Kabupaten Nias.
  9. Refadan Saputradali Maduwu dari Kecamatan Teluk Dalam, Kabupaten Nias Selatan.
  10. Nike Asri Yanti Gea dari Desa Siwalubanua 2, Kecamatan Gunungsitoli Idanoi, Kota Gunungsitoli.
  11. Rainhardus Ndraha dari Desa Nifalo’olauru, Kecamatan Gidö, Kabupaten Nias.
  12. Fransiska Ika Sartika Lase dari Desa Hiliweto, Kecamatan Gidö, Kabupaten Nias.
  13. Ingatan Daniel Ndraha dari Desa Lahemo, Kecamatan Gidö, Kabupaten Nias.

Senta menjelaskan, untuk biaya tiket untuk ke-13 anak tersebut dikumpulkan secara royongan. Dari orang tua memberikan semampu mereka, lalu dari Senta sendiri dan dukungan dari teman-temannya yang tergerak untuk membantu biaya perjalanan yang cukup besar itu dari Nias sampai ke Semarang.

8 Putra Nias yang diterima di SMK Bagimu Negeriku Semarang dan Senta Leo di ruang aula asrama putra | Dok. Senta Leo

Seminggu sebelum berangkat ke Semarang, ke-13 anak tersebut tinggal di asrama di panti asuhan yang dikelola oleh Senta untuk mendapatkan pelatihan dasar untuk menyiapkan kerohanian dan juga mental mereka.

Pada tahun lalu, Senta juga memfasilitasi seleksi dan membawa empat putra-putri Nias untuk sekolah di SMK yang beralamat di Jalan Palir Raya No.66 – 68, Podorejo, Ngaliyan, Kota Semarang, Jawa Tengah itu. Empat lainnya yang juga diterima pada tahun lalu dibawa oleh penghubung lain maupun melalui seleksi oleh penghubung lainnya di Medan. (baca: 8 Putra-Putri Nias Lanjutkan Pendidikan di SMK Bagimu Negeriku Semarang)

Kepada redaksi Nias Satu yang mengunjungi sekolah itu pada tahun lalu, Direktur Eksekutif SMK Bagimu Negeriku Ruth Jeanette mengatakan bahwa mereka telah menerima anak-anak dari Nias sejak pada 2011.

“Mereka bagian dari anak-anak lainnya dari seluruh Indonesia yang kami terima untuk mendapatkan kesempatan belajar dengan pendidikan terbaik di tempat ini,” ujar Ruth.

SMK Bagimu Negeriku didirikan oleh Ibu Elisabeth Philip, seorang penyandang tuna netra sejak usia 32 tahun. Ibu Elis, demikian dia akrab dipanggil adalah penerima sejumlah penghargaan, terbaru Kick Andy Hero Award 2019 atas kiprahnya dalam mengubah Desa Tlogoweru, sebuah desa miskin di Kabupaten Demak, Jawa Tengah menjadi salah satu desa paling maju di Indonesia dan juga menjadi desa percontohan saat ini melalui pendampingan dan pelatihan selama beberapa tahun.

Ibu Elis sendiri telah menjalin kerja sama dengan Yayasan API, bahkan pada tahun lalu datang bersama timnya ke Promisland untuk memberikan pelatihan dan juga pembinaan kepada warga Nias. (Baca: Pendiri SMK Bagimu Negeriku dan Yayasan API Bekerja Sama Majukan Nias)

Dalam pertemuan dengan redaksi Nias Satu pada tahun lalu di rumahnya di Semarang, Ibu Elis menjelaskan kepeduliannya yang sangat mendalam bagi anak-anak pedalaman yang memiliki kemampuan belajar namun terbatas untuk mendapatkan pendidikan yang terbaik karena masalah biaya, termasuk dari Pulau Nias. Ibu Elis mengatakan, anak-anak yang sekolah di sana kemudian diarahkan untuk kembali membangun daerahnya masing-masing.

Selain, anak-anak Nias yang diterima di SMK Bagimu Negeriku, Ibu Elisabeth juga membiayai kuliah sejumlah anak-anak Nias. Di antara mereka ada yang saat ini tinggal bersama dia di rumahnya sambil menjadi guru di SMK Bagimu Negeriku. (Baca: Cinta Elisabeth Philip Untuk Nias)

Kembali ke Nias

Lima Putri Nias yang diterima di SMK Bagimu Negeriku di ruang lobi asrama putri | Dok. Senta Leo

Dalam perjalanan dari Binaka menuju Semarang, Senta bercerita, dia melakukan beberapa hal agar diingat ke-13 anak itu seumur hidup mereka sejak mereka meninggalkan Pulau Nias.

“Saat kami baru terbang menanjak lepas dari landas pacu Bandara Binaka, saya katakan kepada mereka, ‘Lihatlah keluar, pandanglah Pulau Nias tercinta. Tanö Niha, aku kan kembali padamu! Untuk mengasihimu dan membangunmu!’” jelas Senta.

Demikian juga ketika mereka tiba di Bandara Ahmad Yani di Semarang, kata Senta, setelah mengambil koper, mengajak mereka berdoa di pojok luar bandara sekaligus mengingatkan mereka sekali lagi untuk kembali ke Nias untuk mengabdi.

“Saya katakan semaju-majunya daerah lain, tetap lebih baik pulang ke Nias mengabdi, lebih baik jadi ikan besar di kolam kecil Nias daripada jadi ikan kecil di kolam orang. Banyak anak Nias yang sudah lupa kembali setelah menikmati dunia yang maju dan nyaman di luar pulau Nias. Nias bukan hanya dapat stigma tertinggal tapi juga ditinggalkan, bahkan cukup banyak suku Nias yang meninggalkan Nias tetap terpuruk dan tertinggal,” papar dia.

Senta sendiri yang dahulu seorang pengusaha di Jakarta memutuskan mengabdikan diri sekeluarga di Pulau Nias setelah gempa dahsyat mendera Pulau Nias pada Maret 2005 lalu. Dia mengambil risiko dengan membawa istri dan kedua anak mereka yang masih kecil untuk tinggal dalam berbagai keterbatasan di Pulau Nias.

Mereka merintis panti asuhan, sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), SMP dan SMA yang saat ini sedang dalam tahap persiapan.

Selain itu, lahan beberapa hektar yang mereka tempati di Desa Umbu, Kecamatan Gidö, mereka berdayakan untuk bercocok tanam padi dan peternakan untuk memasok kebutuhan dasar mereka di tempat itu. Juga, melalui tempat itu membantu warga desa sekitar melalui berbagai pembinaan hingga memfasilitasi pelatihan, baik dari pemerintah maupun pihak lain yang peduli dengan Nias. (ns1)

 

 

About the Author

Leave a Reply

*

Translate »