Bripda Mesniar Duha, Putri Nias Pertama Brigadir Khusus Penyidik Pembantu Polri

Bripda Mesniar DuhaNIASSATU, JAKARTA – 450 pria dan wanita muda berbaris rapi dengan seragam khas warna coklat tua. Mereka terdiri dari 400 pria dan 50 wanita. Tak jauh dari mereka, ratusan orang menyaksikan momen bersejarah itu. Mereka adalah orang tua dan para kerabat yang menghadiri pelantikan mereka.

Di bawah terik yang menyengat pagi itu wajah mereka tampak ceria. Hari itu adalah hari bahagia mereka. Ya, hari itu, Senin (2/5/2016) adalah hari terakhir pendidikan mereka. Dan sejak hari itu juga, mereka resmi menjadi bagian dari institusi Kepolisian Republik Indonesia (POLRI).

Pelantikan pada hari itu dipimpin oleh Kepala Biro BinDiklat Lemdikpol Brigjen Rachmad Fudail yang mewakili Kalemdikpol Komjen Syafruddin. Sedangkan Kompol Dwi Drajat Soenarko bertindak sebagai Komandan Upacara.

“50 Polisi Wanita dan 400 Polisi Pria ini diharapkan mampu memperluas penyebaran dan jangkauan pelayanan Polri kepada masyarakat. Keberadaan mereka sangat strategis karena kehadiran para Bintara Polri ini sebagai pelaksana utama tugas Polri pada lini terdepan,” ujar Brigjen Rachmad dalam sambutannya.

450 polisi muda tersebut merupakan angkatan pertama perekrutan Brigadir Khusus Penyidik Pembantu dari latar belakang sarjana strata satu (S1) T.A. 2015 sebagai implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2010 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 27 tahun 1983 tentang Pelaksanaan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana yang mensyaratkan pendidikan minimal penyidik adalah sarjana strata satu.

Mereka diseleksi dari seluruh Indonesia melalui Polda-Polda. Mereka tidak hanya mewakili Polda pengutus mereka, sekaligus daerah pengutusan mereka.

Melewati tujuh bulan pendidikan bukanlah hal yang ringan. Dikondisikan selalu dalam sikap siaga, teratur dan disiplin tak cuma melelahkan, tapi juga membuat mereka memiliki karakter yang baru.

Tapi, kelelahan selama tujuh bulan berakhir pada hari itu. Mereka dilantik dan resmi menjadi anggota Polri. Menyandang pangkat perdana, Brigadir Polisi Dua (Bripda).

Salah satu dari 450 orang Brigadir Khusus tersebut adalah putri Nias, tepatnya dari Nias Selatan, Bripda Mesniar Novrina Sari Duha, SH. Wanita muda yang di keluarga biasa dipanggil Novi tersebut adalah salah satu dari 50 Polwan yang dilantik pada hari itu.

Karena bagian dari angkatan pertama perekrutan, maka Bripda Mesniar juga merupakan putri Nias pertama dalam perekrutan Brigadir Khusus Penyidik Pembantu berlatar sarjana oleh Polri.

Bripda Mesniar menuturkan, pada tahap seleksi pada 2015, dia juga satu-satunya calon Polwan yang diutus Polda Kepulauan Riau untuk mengikuti seleksi akhir di tingkat Mabes Polri. Setelah dinyatakan lulus, kemudian mengikuti pendidikan di Pusdik Polair Lemdikpol, Pondok Dayung, Tanjung Priok, Jakarta Utara. Bersama 10 calon polisi pria utusan Polda Kepri, dia ke Jakarta menjalani pendidikan sejak Oktober 2015.

“Awalnya iseng melamar dan ikut tes. Saya dapat info dari teman-teman yang banyak jadi Polwan. Saat itu, delapan melamar menjadi Polwan dan 68 melamar Polki. Pada tahap seleksi, enam calon Polwan gugur. Pada tes selanjutnya, tinggal saya yang tersisa,” ujar Bripda Mesniar kepada redaksi Nias Satu ketika ditanya awal keinginannya melamar menjadi Polisi setelah pelantikannya.

Bripda Mesniar sendiri sebelumnya menamatkan pendidikan dengan gelar Sarjana Hukum (SH) pada Fakultas Hukum Universitas Batam, Kepulauan Riau. Setelah itu, sempat beberapa waktu bekerja di beberapa bank, di antaranya, Bank BCA dan Bank CIMB Niaga. Sempat juga ke Jakarta untuk mencari kerja tetap. Namun, tak lama, kemudian ‘tergoda’ oleh informasidan dorongan dari teman-teman kuliahnya dulu untuk melamar pada seleksi Brigadir Khusus Penyidik Pembantu Polri dari lulusan sarjana.

“Sebelumnya saya pernah magang di BCA. Lalu, karena ingin mencari kerja tetap, saya keluar dan bekerja di CIMB Niaga. Lalu, saya keluar lagi karena ingin bekerja di bank yang lebih besar, seperti Bank BNI. Tapi, kemudian mendapat informasi dari teman-teman kampus dulu yang sekarang jadi Polwan untuk mengikuti tes. Lalu, saya iseng-iseng coba melamar,” jelas dia.

Wanita kelahiran Medan jelang 25 tahun lalu tersebut tak menyangka bisa melewati seluruh rangkaian tes dan kemudian dinyatakan berhak mengikuti pendidikan di Jakarta.

“Ini angkatan pertama perekrutan Brigadir Khusus Penyidik Pembantu. Tak menyangka juga saya salah satunya,” ujar dia.

Bripda Mesniar menuturkan, memulai masa awal pendidikan bukanlah hal yang mudah. Karena dia harus mengubah hampir seluruh kebiasaannya. Di tempat pendidikan itu, kata dia, semua serba teratur dan disiplin.

“Awalnya ada rasa ingin minta pulang. Soalnya di tempat pendidikan, semua benar-benar diatur. Dari bangun, mandi, makan, kegiatan dan semuanya, serba diatur. Dua bulan pertama kami tidak boleh menggunakan handphone, juga tidak boleh memegang uang,” ungkap dia mengingat masa adaptasi awalnya di tempat pendidikan.

Meski begitu, dia mengukuhkan komitmennya untuk tidak mau peduli dengan keinginan dirinya sendiri dan menyerah. Tetapi memutuskan membiarkan diri sepenuhnya mengikuti pendidikan yang ketat itu.

“Akhirnya saya bisa lewati. Dan saya yakin bisa menyelesaikannya. Kuncinya adalah motivasi. Di luar sana, mungkin beribu-ribu orang mau seperti saya, tetapi kenapa di batas ini saya harus mundur,” kata dia.

Hasil yang cukup baik pun ditorehkanya dengan menempati peringkat 22 dari total 450 lulusan perdana tersebut.

Kini dia tak hanya menyandang pangkat, dan status sebagai anggota Polri. Tetapi juga beserta dengan kebanggaan yang melekat di dalamnya.

Dia mengakui, setelah belajar banyak hal selama tujuh bulan tersebut, makin tahu apa yang bisa dilakukan ketika berurusan dengan persoalan hukum. Minimal, kata dia, ilmu itu berguna bagi keluarga dan orang-orang sekitarnya.

“Polri itu kan statusnya sebagai pegawai negara. Jadi, kerjanya tetap. Tetapi, lebih dari itu, sampai di batas ini, setelah pelajari ilmu-ilmu kepolisian makin tertarik karena bagaimana pun peran kepolisian ini menyangkut seluruh aspek kehidupan masyarakat. Ilmu itu juga berguna membantu orang lain untuk memahami aspek-aspek hukum,” terang dia.

Bripda Mesniar juga menegaskan bahwa keinginannya menjadi polisi bukanlah untuk gagah-gagahan. Dia juga menyadari bahwa di masyarakat banyak citra buruk yang terbentuk tentang polisi.

“Saya sadari bahwa di luar sana banyak polisi dicitrakan buruk. Tetapi, motivasi saya sama sekali tidak karena ingin gagah-gagahan. Mudah-mudahan saya bisa berperan memperbaiki citra itu,” ucap dia.

Bripda Mesniar Duha bersama kedua orang tua, nenek dan pamannya, Folo Nehe, Arselan Nehe dan Kombes (Purn) Asli Manao | Dok. Pribadi

Bripda Mesniar Duha bersama kedua orang tua, nenek dan pamannya, Folo Nehe, Arselan Nehe dan Kombes (Purn) Asli Manao | Dok. Pribadi

Kebanggaan Generasi Nias

Bripda Mesniar mengakui, meski diutus dari Provinsi Kepulauan Riau namun tak kehilangan kebanggaannya sebagai generasi Nias, khususnya Nias Selatan. Karena itu, bagi dia, kelulusan ini juga bagian dari kebanggaannya sebagai putri Nias.

Bripda Mesniar merupakan anak pertama dari pasangan Sadart Duha yang berasal dari Desa Hilisatarö dan Adi Sani Nehe dari Desa Bawömataluo tersebut, Kabupaten Nias Selatan. Pasangan yang biasa dipanggil Ama/Ina Novi itu saat ini berdomisili di Batam, Kepulauan Riau.

“Sebagai orang Nias, saya sangat bangga berhasil menyelesaikan pendidikan ini. Mudah-mudahan ini bisa memotivasi putri-putri Nias, dan Nias Selatan khususnya agar berani bermimpi setinggi-tingginya. Harus berani bermimpi, jangan membatasi diri dengan hanya melihat keadaan saat ini,” kata dia.

Dia pun mengimbau putri-putri Nias lainnya agar tidak berpuas diri dengan pencapaian pendidikan yang ada saat ini. Cari hal-hal lain yang bisa direngkuh, yang bisa membanggakan.

“Kejarlah karirmu. Jangan cuma sampai di batas, misalnya S1, lalu puas. Cari hal-hal lain yang bisa membanggakan, dan yang bisa mewakili Nias Selatan,” ujar dia.

Tips lainnya, kata dia, harus berani bertanya untuk hal-hal yang tidak diketahui dan terbuka untuk belajar hal-hal baru, termasuk tidak takut gagal.

“Jangan berhenti mencoba. Sebenarnya saya tidak tahu juga soal tes polisi itu karena itu hal baru sama sekali. Tapi, saya tidak ragu untuk bertanya. Dan saya ikuti tes itu. Saya berpikir, kalaupun saya gagal, saya tidak rugi. Minimal itu akan menjadi pengalaman bagi saya,” imbuhnya.

Kini Bripda Mesniar sudah berada di Polda Kepulauan Riau untuk bertugas di sana.

Selamat mengabdi, semoga menjadi Polisi sesuai harapan masyarakat. (ns1)

About the Author
  1. Riki Candra Tarigan Reply

    Mantap Mesniar… Sengat terus y kawan…Dan jgn pernah lupa Kartanegara Dan Yapena 45 Medan..

    -riki-

  2. Gersom Reply

    Apresiasi buat saudariqu meniar duha.
    Yg telah meraih cita2nya,smga dpt berguna dmna pun u berada. Jaya lah tetap untuk bangsa ini pada umumnya dan khususnya nias selatan. Jgn lah pernah lupakan kampung halamnu. Jadilah motivator bgi kaum muda dari nias selatan.
    Congrat bwtmu saudariku.
    Selamat bertugas.

Leave a Reply to Riki Candra Tarigan Cancel reply

*

Translate »